<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jayakan Islam</title>
	<atom:link href="http://jayakanislam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jayakanislam.wordpress.com</link>
	<description>Jayakan Islam dengan Ilmu, Iman dan Amal</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Feb 2011 22:53:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jayakanislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jayakan Islam</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jayakanislam.wordpress.com/osd.xml" title="Jayakan Islam" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jayakanislam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Salafi Mesir Ingin Realistis</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2011/02/26/salafi-mesir-ingin-realistis/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2011/02/26/salafi-mesir-ingin-realistis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 22:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[22/2/2011 &#124; 16 Rabiul Awwal 1432 H &#124; Hits: 2.199 Oleh: Tim dakwatuna.com &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; 267 Share0diggs diggdakwatuna.com – Revolusi Mesir kemarin rupanya tidak hanya merubah peta politik di Mesir dan Timur Tengah, tapi mulai menggoyahkan pandangan kalangan salafi dalam masalah sosial politik. Dai salafi Mesir ternama, Ahmad Hassan, meminta para syaikh salafi meninjau ulang kembali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=68&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
22/2/2011 | 16 Rabiul Awwal 1432 H | Hits: 2.199</p>
<p>Oleh: Tim dakwatuna.com<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>267<br />
Share0diggs<br />
diggdakwatuna.com – Revolusi Mesir kemarin rupanya tidak hanya merubah peta politik di Mesir dan Timur Tengah, tapi mulai menggoyahkan pandangan kalangan salafi dalam masalah sosial politik.</p>
<p>Dai salafi Mesir ternama, Ahmad Hassan, meminta para syaikh salafi meninjau ulang kembali sejumlah pemikiran dan pandangannya untuk masuk dalam kancah politik dan bepartisipasi dalam pemilihan presiden dan anggota parleman yang akan datang.</p>
<p>Hal tersebut disampaikan dalam muktamar Salafi di Manshurah yang sedianya ditujukan untuk mempertahankan pasal 2 UU Mesir agar tidak diamandemen, berubah menjadi moment untuk meninjau kembali sejumlah pandangan baku di kalangan salafi. Muktamar mereka kali ini dari segi pengorganisasian dan tampilan menyerupai Ikhwanul muslimin.</p>
<p>Pada hari Jumat lalu, Hasan berkata, “Saya memohon para masyaikh (guru) kami untuk meninjau ulang kembali sejumlah pandangan yang telah dimiliki sejak sekian tahun lalu, seperti pencalonan anggota DPR dan MPR, serta pencalonan presiden. Saya memohon kepada para masyaikh untuk berkumpul merumuskan dasar-dasar agar para pemuda kita dapat keluar dari fitnah dan simpang siur yang mereka hadapi beberapa hari yang lalu. Para pemuda kita dibuat bingung, syaikh ini berkata begini, sedangkan syaikh yang itu berkata begitu. Pandangan dan ijtihad yang banyak tersebut membuat para pemuda kita menjadi bingung.” Demikian ungkap Hasan seperti dikutip oleh harian Al-Yaum As-Sabi.</p>
<p>Dia juga menambahkan, “Jika sekarang kita tidak berkumpul untuk merumuskan hakekat dan prinsip-prinsip, saya tidak tahu, kapan lagi kita akan dapat berkumpul.”</p>
<p>Hassan menekankan, “Wajib bagi kita untuk saling tolong menolong. Negeri ini sedang dibangun dari awal lagi, sementara kita selalu bersikap pasif. Saya tidak katakan di tepi jurang, tapi kita berada jauh di belakang sejarah. Kita tidak membuat sejarah. Fiqih dan pemahaman macam apa seperti ini? Sungguh berbeda antara pemahaman realita dengan pemahaman tentang kewajiban.”</p>
<p>Hassan juga menekankan bahwa seharusnya para ulama menampilkan keberadaannya saat krisis dan ujian terjadi di tengah para pemuda kita di Tahrir Square dan semua medan yang ada, untuk mengendalikan perasaan dan meluruskan emosi mereka sesuai Kitabullah Ta’ala.</p>
<p>Beliau tambahkan, “Saya mohon para ulama kami dan masyaikh kami, jika sekarang kita tidak berkumpul, kapan lagi kita akan berkumpul. Tidak mengapa saya salah dan tidak mengapa saya tergelincir, ini adalah masalah ijtihad. Dan masalahnya akan semakin buruk jika orang-orang mulianya menjauh. Boleh jadi orang yang memiliki ghirah terhadap agamanya kemudian terhadap bangsanya berupaya namun keliru dalam ijtihadnya, itu tidak mengapa, yang penting kita anggap mereka tetap saudara dan para ulama serta para tokohnya tetap berkumpul. Hendaknya kita buang fanatisme jahiliah yang tercela terhadap partai, jamaah, syaikh dan pandangan serta fatwa pribadi.”</p>
<p>“Kita telah tinggalkan medan tersebut diisi oleh mereka yang tidak cakap berbicara atas nama Allah dan Rasul-Nya, dan kita tinggalkan medan untuk mereka yang di antaranya ada yang tidak dapat membaca satu pun ayat dalam Kitabullah, atau kita tinggalkan medan untuk mengingatkan kumpulan manusia dengan hadits-hadits Rasulullah.”</p>
<p>Kami tegaskan bahwa kami tidak akan membiarkan seorang pun mengusik UU pasal 2 . Tidak layak kita selalu bersikap pasif. Kini kita wajib bergerak untuk berdakwah. Jangan sampai sekarang pada masa membangun, justeru kita bermental merusak atau merobohkan. Wajib bagi warga Mesir yang terhormat untuk tidak menjadi sebab terhalangnya program pembangunan.”</p>
<p>Di lain pihak, DR. Hazim Syauman berkata, “Kejadian di Alexandria (pemboman gereja) terlaksana dengan tujuan untuk menimbulkan ketakutan di kalangan salafi, dan langkah berikutnya adalah mengikis habis kalangan salafi dengan berbagai cara. Revolusi ini butuh disikapi dengan sujud syukur kepada Allah. Jika anda ingin merubah keadaan, hendaknya anda bersikap realistis.”(ist/im/ut)</p>
<p>sumber : www.dakwatuna.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=68&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2011/02/26/salafi-mesir-ingin-realistis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JANGAN LARI DARI UJIAN HIDUP</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2010/07/12/jangan-lari-dari-ujian-hidup/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2010/07/12/jangan-lari-dari-ujian-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 07:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[dakwatuna.com – “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=66&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dakwatuna.com – “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.”  Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, Bab “Sabar Terhadap Bencana”.  Hadits Hasan Gharib ini sampai ke Imam Tirmidzi melalui jalur Anas bin Malik. Dari Anas ke Sa’id bin Sinan. Dari Sa’id bin Sinan ke Yazid bin Abu Habib. Dari Yazid ke Al-Laits. Dari Al-Laits ke Qutaibah.  Perlu Kacamata Positif  Hidup tidak selamanya mudah. Tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan. Kepedihan. Dan, memang begitulah hidup anak manusia. Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit. Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak saleh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi.  Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan. Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan. Dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata, “Allah tidak adil!”  Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah. Panik. Merasa sakit dan pahit. Tentu seorang yang memiliki keimanan di dalam hatinya tidak akan berbuat seperti itu. Sebab, ia paham betul bahwa itulah konsekuensi hidup. Semua kegetiran yang terasa ya harus dihadapi dengan kesabaran. Bukan lari dari kenyataan. Sebab, ia tahu betul bahwa kegetiran hidup itu adalah cobaan dari Allah swt. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)  Hadits di atas mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Ia akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim? Mardhotillah. Keridhaan Allah swt. sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah saw. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.  Yang Manis Terasa Lebih Manis  Kepahitan hidup yang dicobakan kepada kita sebenarnya hanya tiga bentuk, yaitu ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Orang yang memandang kepahitan hidup dengan kacamata positif, tentu akan mengambil banyak pelajaran. Cobaan yang dialaminya akan membuat otaknya berkerja lebih keras lagi dan usahanya menjadi makin gigih. Orang bilang, jika kepepet, kita biasanya lebih kreatif, lebih cerdas, lebih gigih, dan mampu melakukan sesuatu lebih dari biasanya.  Kehilangan, kegagalan, ketidakberdayaan memang pahit. Menyakitkan. Tidak menyenangkan. Tapi, justru saat tahu bahwa kehilangan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang bisa diraih begitu manis. Cita-cita yang tercapai manisnya begitu manis. Yang manis terasa lebih manis. Saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada terkecap begitu manis.  Itulah salah satu rahasia dipergilirkannya roda kehidupan bagi diri kita. Sudah menjadi ketentuan Allah ada warna-warni kehidupan. Adakalanya seorang menatap hidup dengan senyum tapi di saat yang lain ia harus menangis.  “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali ‘Imran: 140)  Begitulah kita diajarkan oleh Allah swt. untuk memahami semua rasa. Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis karena tidak pernah merasakan pahit.  Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan halus. Sensitif. Kita akan punya empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah dipergilirkan dalam situasi yang tidak enak. Ada keinginan untuk menolong. Itulah rasa cinta kepada sesama. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.  Bersama Kesukaran Selalu Ada Kemudahan  Hadits di atas juga berbicara tentang orang-orang yang salah dalam menyikapi Kesulitan hidup yang membelenggunya. Tidak dikit orang yang menutup nalar sehatnya. Setiap kegetiran yang mendera seolah irisan pisau yang memotong syaraf berpikirnya. Kenestapaan hidup dianggap sebagai stempel hidupnya yang tidak mungkin terhapuskan lagi. Anggapan inilah yang membuat siapa pun dia, tidak ingin berubah buat selama-lamanya.  Parahnya, perasaan tidak berdaya sangat menganggu stabilitas hati. Hati yang dalam kondisi jatuh di titik nadir, akan berdampat pada voltase getaran iman. Biasanya perasaan tidak berdaya membutuhkan pelampiasan. Bentuk bisa kemarahan dan berburuk sangka. Di hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi di atas, bukan hal yang mustahil seseorang akan berburuk sangka terhadap cobaan yang diberikan Allah swt. dan marah kepada Allah swt. “Allah tidak adil!” begitu gugatnya. Na’udzubillah! Orang yang seperti ini, ia bukan hanya tidak akan pernah beranjak dari kesulitan hidup, ia justru tengah membuka pintu kekafiran bagi dirinya dan kemurkaan Allah swt.  Karena itu, kita harus sensitif dengan orang-orang yang tengah mendapat cobaan. Harus ada jaring pengaman yang kita tebar agar keterpurukan mereka tidak sampai membuat mereka kafir. Mungkin seperti itu kita bisa memaknai hadits singkat Rasulullah saw. ini, “Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (HR. Athabrani)  Tentu seorang mukmin sejati tidak akan tergoyahkan imannya meski cobaan datang bagai hujan badai yang menerpa batu karang. Sebab, seorang mukmin sejati berkeyakinan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Setelah hujan akan muncul pelangi. Itu janji Allah swt. yang diulang-ulang di dalam surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”  Jadi, jangan lari dari ujian hidup!   www.dakwatuna.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=66&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2010/07/12/jangan-lari-dari-ujian-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SUSAHNYA SENANTIASA MENJAGA HATI</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2010/06/27/susahnya-senantiasa-menjaga-hati/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2010/06/27/susahnya-senantiasa-menjaga-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 05:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Niat merupakan sesuatu yang mudah di ucapkan tetapi sangat berat untuk dilakukan. Bisa dibikatakan bahwa niat merupakn landasan bagi semua amal yang dilakukan manusia. Seberat apapun amal yang dilakukan mamusia tidak ada artinya manakala tidak dilandasi niat yg benar. Bahkan Rasulullah memberi peringatan bagi orang yang melakukan perjalanan hijrah tidak akan mendapat pahala dikarenakan niat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=25&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Niat merupakan sesuatu yang mudah di ucapkan tetapi  sangat berat untuk dilakukan. Bisa dibikatakan bahwa niat merupakn landasan bagi semua amal yang<br />
dilakukan manusia. Seberat apapun amal yang dilakukan mamusia tidak ada artinya manakala tidak dilandasi niat yg benar. Bahkan Rasulullah memberi  peringatan bagi orang yang melakukan perjalanan hijrah tidak akan mendapat pahala dikarenakan niat yahn salah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=25&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2010/06/27/susahnya-senantiasa-menjaga-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DUA PERKARA: NIAT DAN PERSATUAN</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2010/06/27/dua-perkara-niat-dan-persatuan/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2010/06/27/dua-perkara-niat-dan-persatuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 04:04:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua perkara yang harus selalu ditegakkan para dai dalam berdakwah: meluruskan niat dan merapatkan barisan. Niat adalah hal yang sangat mendasar dalam ajaran Islam. Seluruh amal perbuatan kita tanpa niat tidak akan diterima Allah swt. Bahkan, niatlah yang menjadi pembeda mana amal yang bersifat ibadah dan mana yang bukan. Mandi pagi bisa bernilai ibadah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=57&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jayakanislam.files.wordpress.com/2010/06/parleemen123.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-58" title="parleemen123" src="http://jayakanislam.files.wordpress.com/2010/06/parleemen123.jpg?w=614" alt=""   /></a>Ada dua perkara yang harus selalu ditegakkan para dai dalam berdakwah: meluruskan niat dan merapatkan barisan.</p>
<p>Niat adalah hal yang sangat mendasar dalam ajaran Islam. Seluruh amal perbuatan kita tanpa niat tidak akan diterima Allah swt. Bahkan, niatlah yang menjadi pembeda mana amal yang bersifat ibadah dan mana yang bukan. Mandi pagi bisa bernilai ibadah, bisa juga hanya rutinitas sehari-hari, itu tergantung apa yang kita niatkan saat melakukannya.</p>
<p>Karena itu, meluruskan niat merupakan perkara yang mendasar. Apakah niat kita dalam berdakwah? Sudahkan Lillahi Ta’ala. Ikhlas hanya mengharapkan mardhatillah, keridhaan Allah. Bukan karena mengincar jabatan, kekayaan, popularitas, atau mengejar wanita yang ingin diperistri, seperti yang diilustrasikan Rasulullah saw. dalam hadits tentang niat.</p>
<p>إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا</p>
<p>أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ</p>
<p>Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan. (Bukhari)</p>
<p>Jika niat kita ikhlas Lillahi Ta’ala, maka itulah perjanjian kita di hadapan Allah swt. Lantas, sudahkan kita teguh dengan al-ahd (perjanjian) itu? Allah swt. mengabarkan kepada kita tentang para dai sebelum kita. Mereka memiliki keteguhan dalam memegang janjinya. “Diantara orang-orang mukmin itu ada golongan yang membenarkan janjinya kepada Allah, sebagian diantaranya telah menunaikan janjinya (dengan menemui kesyahidan) dan sebagian lagi masih menanti, tanpa mengubah janji itu sedikitpun”. (Al Ahzab: 23)</p>
<p>Karena itu, tak salah jika kita selalu mengulang-ulang ikrar keikhlasan janji kita di setiap kali menunaikan shalat, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku untuk Allah Pencipta alam semesta.” (Al-An’am: 162). Secara sadar kita meluruskan niat kita dalam sehari setidaknya lima kali.</p>
<p>Benarkah seluruh kehidupan kita akankah kita korbankan untuk kehidupan tak ada batasnya di akhirat nanti? Atau, hanya untuk mengejar kedudukan di dunia? Orang yang cerdas pasti tidak mau. Sebab, kita tahu nilai dunia itu tidak seberapa. Kata Nabi saw.,<br />
لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ</p>
<p>“Seandainya dunia ini ditimbang, maka nilainya di sisi Allah sama seperti salah satu sayap nyamuk. Allah tidak akan memberikan di dunia ini, walaupun seteguk air saja, untuk orang-orang yang ingkar.” (H.R. Tirmidzi, no. 2242, shahih gharib)</p>
<p>Selain itu, dari ayat 23 surat Al-Ahzab, kita juga mengambil pelajaran bahwa al-istimroriyah, kontinuitas di jalan dakwah, adalah termasuk dalam salah satu perjanjian kita di hadapan Allah. Dan memang begitulah yang dicontohkan oleh para dai generasi awal Islam yang dibimbing oleh Rasulullah saw. Mereka tidak kenal lelah dan putus asa. Sahabat-sahabat Nabi saw. menjalani setiap fase dakwah berikut cobaan demi cobaan berat yang harus mereka lalui.</p>
<p>Kepada mereka, Rasulullah saw. menceritakan pengalaman dai generasi sebelumnya. Mereka ada yang digergaji, tetapi mereka tetap sabar. Itu bukan untuk menganggap kecil cobaan yang dihadapi oleh para sahabat. Fitnah yang mereka terima bukan hanya berupa intimidasi kata-kata, tetapi sudah berlumuran darah.</p>
<p>Apa yang membuat para sahabat bisa demikian teguh di medan dakwah? Husnu tsiqah dan bersandar terus kepada Allah Ta’ala lah yang memberikan ketenangan kepada mereka semua untuk terus langkah. Dengan begitu mereka bisa tenang dan tegar, meski zaman ini cepat sekali berubah tanpa terasa. Seorang tabi’in (generasi setelah sahabat Nabi) berkata, “Ayahku bercerita kepadaku: ‘Aku melihat Romawi menjatuhkan Persia, kemudian aku melihat pula Persia menjatuhkan Romawi. Dan, akhirnya aku melihat Islam meruntuhkan kedua-duanya hanya dalam waktu 15 tahun saja”. Tumbangnya Persia dan Romawi oleh kekuatan Islam hanya memakan waktu tak lebih dari 15 tahun. Begitulah capaian dakwah yang diasung oleh dai-dai yang ikhlas, teguh dalam memegang perjanjiannya dengan Allah, dan beramal secara kontinu tiada henti. Itulah buah dari kekuatan iman.</p>
<p>Namun bila hasil dakwah yang ditargetkan tidak seperti yang diharapkan, seorang dai masih bisa berharap mudah-mudahan kecapaian dan kelelahannya dalam berdakwah semuanya dihitung di sisi Allah Ta’ala, sekurang-kurangnya sebagai kaffaratun li adz dzunub (menghapus dosa). Begitulah yang disabdakan Rasulullah saw. dalam hadits nomor 5210 yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:<br />
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ</p>
<p>“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kekhawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya.”</p>
<p>Bukankah penghapusan dosa itu sudah lebih bagus daripada sekadar mendapat jabatan dunia. Khairun min ad-dunya wa maa fiiha (lebih baik dari dunia dan seisinya). Setiap hari berapa dosa yang kita pikul? Jika Allah mengampuninya, itu lebih baik dari segala-galanya.</p>
<p>*****</p>
<p>Perkara yang kedua yang harus selalu dilakukan oleh para dai adalah merapatkan barisan. Hal ini harus menjadi visi para dai bahwa mereka punya peran sebagai perekat umat. Karena itu, setiap dai harus punya spirit “kita bergabung dan bertemu menjadi kokoh dalam satu barisan tanpa merasa diri paling benar (‘ala ghairil ashwab), itu jauh lebih baik daripada kita terpisah-pisah dalam posisi merasa diri paling benar (ashwab)”. Begitulah perintah Allah swt. kepada kita.</p>
<p>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran: 103)</p>
<p>Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Ash-Shaf: 4)</p>
<p>Suatu ketika beberapa orang sahabat datang kepada Rasulullah Saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah. “Kami semua makan, ya Rasulullah, tapi tidak pernah merasa kenyang,” kata sahabat. Coba perhatikan, bagaimana Rasulullah mengajarkan kepada kita suatu adab dan akhlak yang baik. Apa jawab Rasulullah atas pertanyaan sahabat tadi?</p>
<p>“Boleh jadi kamu makan sendiri-sendiri?” Beliau bertanya lebih lanjut. Maka, sahabat kemudian menjawab, “Benar, ya Rasulullah.” Maka Rasulullah bersabda: “Kullu (kalian diharuskan untuk makan) mujtami’in (bersama-sama) fa inna al barakah ma’al jama’ah (karena keberkahan selalu beserta mereka yang berjamaah).” Istilah al-jamaah yang dimaksudn adalah jama’atul muslimin. Untuk makan saja Rasulullah saw. menyuruh kita untuk berjama’ah, apalagi untuk berdakwah. Karena itu, para dai harus berperan sebagai penggalang persatuan umat. Apapun kekurangan yang terdapat dalam tubuh umat, itulah kondisi faktual yang harus kita perbaiki dalam kebersamaan. Para dai harus mengajak semua komponen umat untuk bersatu memperbaiki segenap kekurangan yang ada di tubuh umat ini.</p>
<p>Memang sulit menyatukan umat dalam satu barisan yang kokoh. Tapi, apa pun yang bisa kita capai dan itu belum termasuk kategori menggembirakan hasilnya, itu bukan sebuah kegagalan. Kita semua menyadari dalam kamus seorang dai tidak ada ada entri kata “kekalahan”. Para dai selalu “menang”, bila tidak di dunia, maka kemenangan di akhirat. Orang boleh menilai agenda penyatuan umat yang kita dakwahkan tidak membuahkan hasil yang signifikan, tetapi kita melihat kenyataan itu sebagai perkara yang paling baik buat kita semua saat ini.</p>
<p>Bisa jadi itu juga cara Allah swt. menguji keteguhan kita dalam berdakwah. Tujuannya adalah untuk memberi motivasi dan dorongan kita agar semakin gigih dalam berdakwah. Sa’id Hawwa dalam bukunya “Al Madkhal” bercerita tentang berbagai ujian. Ia mengatakan, ”Man lam yakun lahu bidayah muhriqah laisa lahu nihayah musyriqah.” Barangsiapa tidak memulai dengan muhriqah (sesuatu yang membuat terbakar, penuh semangat dan kesusahan), maka tidak akan mendapat akhir yang musyriqah (cemerlang).”</p>
<p>Semoga kita bisa menegakkan dua perkara ini dalam keseharian aktivitas dakwah kita. Amin.</p>
<p>sumber: www.dakwatuna.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=57&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2010/06/27/dua-perkara-niat-dan-persatuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jayakanislam.files.wordpress.com/2010/06/parleemen123.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">parleemen123</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGANGGURAN HARAKI</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/12/30/pengangguran-haraki/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/12/30/pengangguran-haraki/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 05:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/2009/12/30/pengangguran-haraki/</guid>
		<description><![CDATA[Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah berkata, “Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan message kehidupan, maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=55&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah berkata, “Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan message kehidupan, maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak ada panen bagi mereka selain kehancuran dan kerugian.”</p>
<p>Ada beragam penyakit tarbawi yang sangat berbahaya, jika ia tersebar dalam barisan dakwah, dan mendapatkan tempat dalam jiwa personelnya, maka pasti yang terjadi adalah keterpurukan, keguguran, menarik diri dan meninggalkan kancah dakwah secara diam-diam, kemudian kebangkrutan dalam arti yang luas dan menyeluruh</p>
<p>Di antara penyakit tersebut dan utamanya adalah al-bithalah ad-da’awiyah (pengangguran da’awi) atau al-kasal al-haraki (kemalasan haraki) atau futur, al-faragh (tidak ada pekerjaan), al-qu’ud ‘anil ‘amal (berpangku tangan), at-taqa’us ‘an ada’ al-wajib (tidak menunaikan kewajiban), at-tanashshul minal qiyam bil maham ad-da’awiyah (tidak menjalankan tugas-tugas da’wah) yang sangat beragam, istimra’ halat ar-rahah (terbiasa menikmati suasana santai), at-taharrur min tahammul at-tabi’ah wal mas-uliyyah (berlepas diri dari upaya memikul beban dan tanggung jawab).</p>
<p>Semua tadi merupakan gejala satu penyakit yang jika menimpa para aktivis di medan dakwah dan harakah, niscaya menimpa pada posisi yang mematikan, kecuali jika segera mendapatkan kebangkitan hati, atau mengambil ibrah dari suatu mau’izhah, atau mengambil manfaat dari suatu nasihat, dan tentunya, sebelum, saat dan setelah itu ia mendapatkan rahmat, kebersamaan dan taufiq Allah SWT.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman dan mu’ayasyah (interaksi) tampak bahwa ada sejumlah faktor yang memberi andil bagi terjadinya penyakit ini, utamanya adalah:<br />
Menurunnya tingkat keikhlasan dan masuknya niat yang tidak baik.<br />
Ada masalah pada unsur-unsur pemahaman<br />
Tidak mengetahui jati diri dakwah dan harakah<br />
Merespon berbagai godaan dunia dan mengejar kemilauannya yang palsu<br />
Melupakan ghayah, atau inhiraf dan lalai darinya<br />
Putus asa, frustasi dan memprediksi keburukan<br />
Mengambang dan target yang tidak jelas<br />
Tidak interaktif dengan proses tarbawi<br />
Menghilangnya akhlaq yang menjadi tuntutan marhalah, seperti: tsabat, sabar, tsiqah, tajarrud, tadh-hiyah dan lainnya.<br />
Melemahnya rasa tanggung jawab<br />
Merasa panjang perjalanan dakwah yang mesti ditempuh<br />
Menghilangnya semangat dan padamnya bara keinginan untuk beramal<br />
Rancunya jenjang prioritas, kalaupun masih ada, dakwah ditempatkan pada posisi prioritas paling akhir<br />
Berkaratnya sisi ruhani, tarbawi dan imani serta rusaknya komitmen<br />
Buntunya selera beramal serta tidak merasakan kelezatan mengerahkan jerih payah fi sabilillah<br />
Hilangnya citarasa berlelah dan bersungguh-sungguh beramal di berbagai medan dakwah<br />
Kehilangan rasa ber-intima’ kepada dakwah dan harakah dan semakin kurusnya unsur-unsur wala’ kepadanya.<br />
Tertutupnya bentuk izzah kepada manhaj dakwah dan dinginnya ghirah terhadapnya<br />
Melemahnya immunitas fikriyah, imaniyah dan tarbawiyah</p>
<p>Semua faktor, sebab ini mendorong seseorang untuk qu’ud (berpangku tangan), menarik diri, menjauh dari lapangan amal dan membikin-bikin alas an untuknya. Karenanya, seseorang yang seperti ini akan menjadi beban berat dakwah dan harakah. Akibat berikutnya, dakwah semakin merintih karena memikul bebannya dan menyeretnya, padahal seharusnya, orang itulah yang semestinya memikul dakwah serta membawanya kepada cakrawala masa depan yang luas</p>
<p>Jika penyakit pengangguran da’awi dan haraki menyebar, akan muncullah ribuan perilaku-perilaku rendah, baik dalam skala perseorangan maupun jama’i, sebab, “barisan yang didalamnya tersebar pengangguran, maka akan banyaknya kerusuhan” dan “rumah yang kosong, akan banyak kebisingan.”</p>
<p>Maka hendaklah para pembawa panji dakwah dan harakah tidak berhenti di tengah jalan. Jangan pula semangatnya mendingin dan efektivitasnya padam setiap kali berhembus angin keputusasaan. Jangan pula harakahnya lumpuh, jalannya terhenti dan arahnya berubah saat bertiup badai fitnah, sebab mereka mengetahui bahwa, “Sifat mulia terkait dengan hal-hal yang tidak disukai, dan kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan kesulitan, karenanya, tidak mengantarkan untuk mencapainya kecuali menggunakan kapal keseriusan dan kesungguhan.”</p>
<p>Tidak ada kegiatan bagi pasukan infantry adalah ghaflah. Di antara penghancur tekad adalah mimpi yang terlalu jauh dan senang bersantai-santai. Angan-angan hendaklah diiringi amal, jika tidak, ia hanyalah sekedar mimpi yang terpulang kepada pemiliknya. Suatu hari Alhasan al-bashri melihat seorang pemuda yang bermain-main dengan batu kecil sambil berdoa, “Ya Allah, nikahkan aku dengan bidadari”, maka Al-Hasan berkata, “Anda adalah pelamar yang paling buruk, melamar bidadari dengan modal main-main batu kecil!”</p>
<p>Begitu juga dengan kita, tidak mungkin kita melamar cinta kasih tamkin, taghyir dan ishlah sementara kita bermain-main dengan sesuatu yang lebih rendah dari batu kecil, sementara itu kita adalah para penganggur, bermalas-malasan, dan cukup menjadi penonton, sebab, seorang pelamar mestilah membawa mahar, dan “siapa yang meminang wanita cantik, maka ia tidak mempedulikan mahalnya mahar.” Dan sebagaimana dinyatakan oleh imam Al-Banna rahimahullah:</p>
<p>“Saya dapat membayangkan seorang mujahid adalah seseorang yang menyiapkan segala yang diperlukannya, membawa yang diperlukannya, niat jihad telah memenuhi seluruh jiwa dan hatinya, selalu dipikirkan, memberi perhatian besar, selalu dalam posisi siap, jika diundang memenuhi, jika dipanggil menyambut, paginya, petangnya, pembicaraannya, omongannya, kesungguhannya dan main-mainnya tidak melampaui medan yang ia telah persiapkan dirinya untuknya, dan ia tidak mengambil selain fungsi yang sesuai dengan kehidupan dan kehendaknya. Spirit berjihad fi sabilillah dapat dibaca dari garis-garis wajahnya, tampak dalam kilatan sinar matanya, dan terdengar dari celetukan lisannya sesuatu yang menggambarkan betapa besar gelora yang ada dalam hatinya, gelora yang selalu ada, menjadi duka hatinya yang terpendam. Juga terbaca dari jiwanya yang bertekad membaja, semangat tinggi dan cita-cita yang jauh. Itulah sosok mujahid, secara personal maupun bangsa. Engkau dapat melihatnya secara jelas pada suatu bangsa yang menyiapkan dirinya untuk berjihad tampak pada forum-forumnya dan klub-klubnya, tampak di pasar dan di jalan, terasa di sekolah, di rumah, terlihat pada generasi muda dan tua, lelaki dan wanita, sehingga anda membayangkan bahwa semua tempat merupakan medan, dan setiap gerakan adalah jihad.</p>
<p>Saya dapat membayangkan hal ini karena jihad merupakan buah dari pemahaman yang melahirkan perasaan, menghilangkan ghaflah, perasaan membangkitkan perhatian dan kebangkitan, dan perhatian berdampak kepada jihad dan amal. Dan masing-masing mempunyai dampak dan penampilan</p>
<p>Adapun mujahid yang tidur sekenyangnya, makan sepuasnya, tertawa sekerasnya dan menghabiskan waktu untuk bermain-main, maka bagaimana mungkin termasuk yang beruntung atau terhitung dalam barisan mujahidin?!”</p>
<p>Umat yang berpandangan bahwa perannya dalam berjihad hanyalah kosa kata yang diucapkan, atau makalah yang ditulis, lalu jika hati mereka diperiksa ternyata kosong, saat diuji perhatiannya melompong, tenggelam dalam ghaflah dan tidur yang molor, maka tempat, forum dan klub mereka tidak ditemui selain hal-hal tidak berguna, ketidakseriusan, main-main, hiburan dan menghabiskan waktu tanpa guna. Seluruh perhatian perseorangannya hanyalah kesenangan yang fana, kelezatan semu, bersantai-santai dan bersenang-senang, maka umat yang seperti ini lebih dekat kepada main-main daripada serius dan bahkan tidak mengenal keseriusan sama sekali.</p>
<p>Jadi, pengangguran adalah jalan kebangkrutan, sementara kepeloporan, kepemimpinan dan ketokohan tidak dapat diraih kecuali dengan keseriusan dan kesungguhan dan tidak dapat dicapai kecuali dengan segudang pengorbanan. Hal ini terbukti secara praktis sepanjang sejarah dan seorang aktivis dakwah dan harakah semestinya merupakan bagian dari mata rantai emas para nabi, rasul, sahabat, tabiin, ulama dan dai aktivis, karenanya, ia tidak akan mendapatkan kehormatan sebagai anggota dan diberi kartu keanggotaan kecuali jika ia telah membayar. Dan Ibnu Qayyim lebih berterus terang daripada saya, sebab ia memandang seseorang yang mengklaim menjadi bagian dari mata rantai mulia ini tanpa memberi bukti sebagai bentuk kebancian tekad. Beliau berkata:</p>
<p>“Wahai seseorang yang bertekad banci, di manakah kamu berada? Sementara jalan yang akan kamu tempuh adalah jalan di mana nabi Adam telah capek, nabi Nuh telah kehabisan suara, nabi Ibrahim telah dilemparkan ke dalam api, nabi Ismail telah digeletakkan untuk disembelih, nabi Yusuf telah dijual murah dan mendekam beberapa tahun dalam penjara, nabi Zakariya telah digergaji, nabi Yahya telah disembelih, nabi Ayyub telah menderita, nabi Daud telah melebihi kadar dalam menangis, nabi Isa telah berjalan sendirian dan nabi kita Muhammad SAW telah bergelut dengan berbagai kemiskinan dan berbagai rasa sakit, sedangkan engkau berbangga dengan hal-hal tidak berguna dan main-main??!!” (Terjemahan Artikel Jamal Zawari Ahmad, Sumber: http://www.Dakwatuna.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=55&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/12/30/pengangguran-haraki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jihad Belum Perlu dengan Senjata</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/08/19/jihad-belum-perlu-dengan-senjata/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/08/19/jihad-belum-perlu-dengan-senjata/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 05:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/2009/08/19/jihad-belum-perlu-dengan-senjata/</guid>
		<description><![CDATA[Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mukmin, Ngruki, Solo, Ustaz Abubakar Ba’asyir menegaskan, jihad sebagai amalan tertinggi dalam ajaran Islam belum perlu dilakukan dengan senjata. “Ijtihad (niat) yang mendasari pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta pada 17 Juli 2009 belum tepat. Mengapa harus mengebom tempat aman,” kata Ba’asyir usai memberikan ceramah di sela-sela acara Muslim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=54&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mukmin, Ngruki, Solo, Ustaz Abubakar Ba’asyir menegaskan, jihad sebagai amalan tertinggi dalam ajaran Islam belum perlu dilakukan dengan senjata. “Ijtihad (niat) yang mendasari pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta pada 17 Juli 2009 belum tepat. Mengapa harus mengebom tempat aman,” kata Ba’asyir usai memberikan ceramah di sela-sela acara Muslim Fair di Yogyakarta, Jumat (14/8).</p>
<p>Menurut dia, jihad dengan senjata baru bisa dilakukan jika umat Islam diusik dengan senjata. “Selama hal itu (diusik dengan senjata, red.) belum dilakukan, maka satu-satunya cara untuk memperjuangkan Islam adalah melalui dakwah yang kuat,” katanya.</p>
<p>Jihad di Indonesia, kata Ba’asyir, lebih tepat dilakukan dengan syiar dakwah dan tidak perlu melakukan serangan dengan menggunakan bom seperti yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Meski demikian, ia mengaku tidak dapat menyalahkan secara mutlak pihak-pihak yang menempuh jalan dengan melakukan aksi pengeboman, seperti di Bali dan Jakarta.</p>
<p>Ia menolak tuduhan apabila Ponpes Al-Mukmin mengajarkan Islam bergaris keras. “Kami mengajarkan ajaran Islam sesuai konsep Allah dan Rasul. Jadi ajaran Islam kami adalah ajaran yang lurus, bukan keras,” katanya.</p>
<p>Baasyir mengaku bangga apabila dituduh mengajarkan jihad kepada santri di pondok pesantren miliknya. “Sebagai mubalig, saya bersyukur dapat mengajarkan jihad. Tetapi saya mengajarkan jihad dalam konsep yang benar,” katanya.</p>
<p>Mantan Pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)itu kembali menegaskan bahwa dirinya bukan guru tersangka utama sejumlah aksi terorisme di Indonesia, Noordin M Top. “Jika ada yang mengatakan demikian (guru Noordin M Top,red.), maka hal itu adalah fitnah dan semata-mata untuk membatasi gerak saya dalam berdakwah,” katanya.</p>
<p>Ia mengaku tidak pernah sama sekali berinteraksi dengan Noordin M Top. “Mungkin dia mengenal saya, tetapi saya tidak mengenalnya,” katanya.</p>
<p>Baasyir mengaku mengenal seorang guru di pondok pesantren yang kebetulan bernama Noordin saat berada di Malaysia pada 1985-1999. “Saya tegaskan, Noordin yang saya kenal bukan Noordin M Top yang kini sedang dicari-cari pihak kepolisian,” katanya.</p>
<p>www.Dakwatuna.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=54&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/08/19/jihad-belum-perlu-dengan-senjata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam Agama Yang Damai</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/08/19/islam-agama-yang-damai/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/08/19/islam-agama-yang-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 05:08:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/2009/08/19/islam-agama-yang-damai/</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah agama damai, agama penuh toleransi, agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta menentang pengkrusakan atau pembunuhan, baik dilakukan secara massif atau terhadap individu. Ada 5 hak asasi manusia yang sangat dihormati dan dipelihara oleh agama Islam, yaitu Agama, Nyawa, Harta, Nasab dan Kehormatan. Siapun yang melakukan pelecehan dan tindak kejahatan terhadap kelima hak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=53&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Islam adalah agama damai, agama penuh toleransi, agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta menentang pengkrusakan atau pembunuhan, baik dilakukan secara massif atau terhadap individu.</p>
<p>Ada 5 hak asasi manusia yang sangat dihormati dan dipelihara oleh agama Islam, yaitu Agama, Nyawa, Harta, Nasab dan Kehormatan.</p>
<p>Siapun yang melakukan pelecehan dan tindak kejahatan terhadap kelima hak asasi manusia tersebut tidak bisa diterima, dan Islam memberikan hukuman yang sangat berat terhadap pelakunya.</p>
<p>Allah swt. berfirman:</p>
<p>“Barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain (bukan karena qishash), atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya; dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” Al-Maidah: 32</p>
<p>Islam melarang menggunakan segala cara untuk meraih tujuan. Dalam suasana kecamuk perang sekali pun, Islam memberikan rambu-rambu dan etika berperang: tidak boleh membunuh orang yang telah menyerah, tidak boleh membunuh wanita, orang tua, anak kecil, tidak boleh merusak tanaman, atau tempat ibadah. Tawanan perang dalam Islam juga dijaga dan diperlakukan secara manusiawi.</p>
<p>Oleh karena itu, setiap tindak kekerasan, pembunuhan atau pemboman, maka tindakan itu tidak bisa ditolelir, tidak bisa diterima, siapapun pelakunya, apapun agamanya. Dan Islam berlepas diri dari tindakan tersebut. Allahu a’lam</p>
<p>Sumber: www.Dakwatuna.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=53&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/08/19/islam-agama-yang-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>10 SYARAT AKTIVIS DAKWAH</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/15/10-syarat-aktivis-dakwah/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/15/10-syarat-aktivis-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 08:40:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/15/10-syarat-aktivis-dakwah/</guid>
		<description><![CDATA[FAHAM Maksudnya: Hendaklah kamu yakini bahawa fikrah kita adalah fikrah Islam yang tulen dan hendaklah difahamkannya kepada orang ramai seperti mana yang kita fahami dalam lingkungan dua puluh usul yang amat ringkas. 1. Islam adalah satu sistem yang menyeluruh yang mengandungi semua aspek kehidupan. Ia adalah daulah dan negara ataupun kerajaan dan umat. Ia adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=47&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FAHAM</p>
<p>Maksudnya: Hendaklah kamu yakini bahawa<br />
fikrah kita adalah fikrah Islam yang tulen dan hendaklah<br />
difahamkannya kepada orang ramai seperti mana yang kita fahami<br />
dalam lingkungan dua puluh usul yang amat ringkas.</p>
<p>1. Islam adalah satu sistem yang menyeluruh yang mengandungi semua<br />
aspek kehidupan. Ia adalah daulah dan negara ataupun kerajaan dan<br />
umat. Ia adalah akhlak dan kekuatan ataupun kasih sayang dan<br />
keadilan. Ia adalah peradaban dan undang-undang ataupun keilmuan<br />
dan hukum-hukum. Ia juga adalah material dan harta benda ataupun<br />
kerja dan kekayaan, ia adalah jihad dan dakwah ataupun ketenteraan<br />
dan fikrah. Begitu juga ia adalah akidah yang benar dan ibadat<br />
yang sahih, kesemuanya adalah sama pengiktibarannya di sisi kita.</p>
<p>2. Al-Quran yang mulia dan sunnah yang suci adalah rujukan kepada<br />
setiap muslim dalam mengetahui hukum-hukum Islam. Al-Quran<br />
difahami dengan mengikut kaedah bahasa arab dengan tidak mengikut<br />
sikap memberatkan dan menyempitkan. Kefahaman kepada sunnah yang<br />
suci adalah dengan mengembalikannya kepada rijal-rijal hadis yang<br />
thiqah.</p>
<p>3. Iman yang benar, ibadat yang sahih dan mujahadah mempunyai<br />
cahaya dan kemanisan yang diberikan oleh Allah kepada hati-hati<br />
hamba yang dikehendakiNya. Manakala ilham, lintasan hati, tilikan<br />
dan tenungan adalah bukan dari dalil hukum syariah yang tidak<br />
diberikan iktibar kecuali jika tidak bertembung dengan hukum dan<br />
nas agama.</p>
<p>4. Dan setiap tangkal, pelindung, azimat, tilikan, jampi serapah<br />
dan pengakuan mengetahui perkara ghaib adalah termasuk dalam<br />
perkara mungkar yang wajib diperangi kecualilah jika ianya adalah<br />
daripada ayat al-Quran dan tangkal yang sandarannya.</p>
<p>5. Pandangan Imam dan naibnya pada masalah yang tidak ada nas<br />
putus padanya dan pada perkara yang mempunyai arah pandangan yang<br />
berbagai hendaklah dipakai selagi mana ia tidak bertentangan<br />
dengan kaedah syarak. Pandangan ini kadangkalanya berubah dengan<br />
perubahan situasi, uruf dan adat. Asal dalam perkara ibadat adalah<br />
mengabdikan diri tanpa berpaling kepada makna-maknanya sedangkan<br />
asal dalam perkara adat, dilihat kepada rahsia-rahsia, hikmat dan<br />
tujuannya.</p>
<p>6. Setiap orang boleh dipakai ataupun ditolak kata-katanya<br />
melainkan kata-kata yang keluar dari orang yang dilindungi dari<br />
dosa, Rasulullah s.a.w. Setiap perkara yang datang dari para<br />
salafussoleh r.a yang bertepatan dengan kitab Allah dan sunah,<br />
kita hendaklah menerimanya. Kalau tidak bertepatan dengan nas,<br />
maka nas al-Quran dan sunah Rasulullah s.a.w adalah yang lebih<br />
utama untuk diikuti. Tetapi kita tidak sekali-kali mengutuk dan<br />
memburukkan seseorang dari mereka walaupun apa yang telah<br />
diselisihkan mengenainya. Kita serahkan semuanya kepada niat<br />
masing-masing kerana mereka telah bergantung kepada apa yang telah<br />
mereka kerjakan.</p>
<p>7. Setiap muslim yang tidak sampai kepada martabat ijtihad dalam<br />
mencari dalil hukum Islam yang furuk hendaklah mengikut kepada<br />
pegangan salah seorang dari Imam-imam mazhab Islam. Menjadi elok<br />
lagi kepadanya ketika mengikut mazhab itu jika ditambah dengan<br />
usaha yang sedaya upaya untuk mengetahui dalil-dalilnya. Dia<br />
hendaklah menerima segala petunjuk yang diserta dengan dalil,<br />
ketika diyakini kesahihan dan kebolehan orang yang memberikan<br />
petunjuk itu kepadanya. Dia juga hendaklah menyempurnakan<br />
kekurangan ilmu yang ada pada dirinya sekiranya dia di kalangan<br />
ahli ilmu sehinggalah dia sampai kepada peringkat Al-Nazar<br />
(ijtihad hukum).</p>
<p>8. Perselisihan faham dalam perkara furuk fekah tidak boleh<br />
menjadi sebab kepada berlakunya perpecahan di dalam agama, juga<br />
janganlah ianya membawa kepada perbalahan, kemarahan antara satu<br />
sama lain. Setiap mujtahid ada pahalanya. Tidak ada halangan jika<br />
dilakukan pengkajian ilmiah yang adil dalam masalah yang<br />
diperselisihkan ini yang dilakukan dalam naungan perasaan kasih<br />
mengasihi kerana Allah, bantu membantu untuk sampai kepada hakikat<br />
yang sebenarnya, dengan tidak membawa kepada perbahasan yang<br />
dikeji dan perasaan taasub.</p>
<p>9. Melarutkan diri ke dalam masalah yang tidak membawa kepada amal<br />
adalah antara takalluf (memberatkan) yang dilarang oleh syarak. Di<br />
antara masalah seperti itu adalah seperti banyaknya cabang dalam<br />
hukum-hukum yang tidak mungkin berlaku, larut dalam membahaskan<br />
makna ayat al-Quran yang masih tidak diketahui oleh akal<br />
pengetahuan dan perbincangan untuk melebihkan antara<br />
sahabat-sahabat r.a dan pertentangan yang berlaku antara mereka.<br />
Setiap dari sahabat ada kelebihan bersahabat dengan Rasulullah<br />
s.a.w dan kesemuanya dibalas bergantung kepada niatnya.<br />
Membincangkan perkara ini boleh membawa kepada perselisihan yang<br />
buruk akibatnya.</p>
<p>10. Makrifat Allah Taala, tauhid kepadaNya, membersihkanNya adalah<br />
akidah Islam yang paling mulia. Kita beriman dengan ayat dan hadis<br />
sahih yang menceritakan sifat Allah dan apa perumpamaan yang layak<br />
denganNya, kita beriman dengannya seperti mana datangnya ayat itu<br />
tanpa takwil dan mencuaikan. Kita juga tidak mencampurkan diri<br />
kita kepada perkara yang diperselisihkan oleh ulamak mengenai<br />
perkara ini. Kita hanya mengikut apa yang diredhai oleh Rasulullah<br />
s.a.w dan para sahabat baginda. Firman Allah yang bermaksud: &#8220;Dan<br />
orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam<br />
ilmu-ilmu ugama berkata: &#8220;Kami beriman kepadanya, semuanya itu<br />
datangnya dari sisi Tuhan Kami&#8221; (Al-Imran).</p>
<p>11. Setiap perkara bid&#8217;aah dalam din Allah yang tidak ada asalnya<br />
walaupun diperelokkan oleh manusia dengan nafsu mereka dengan<br />
menambahkan ataupun mengurangkannya, adalah perkara kesesatan yang<br />
wajib diperangi dan dihapuskan dengan cara yang terbaik yang tidak<br />
membawa kepada merebaknya perkara yang lebih buruk dari itu.</p>
<p>12. Perkara bid&#8217;aah tambahan dan kurangan serta iltizam dengan<br />
ibadat yang mutlak adalah antara masalah fekah yang masih<br />
diperselisihkan. Setiap ulamak mempunyai pandangan yang<br />
tersendiri. Tidak menjadi halangan jika kita mencari kebenaran<br />
dengan dalil dan bukti.</p>
<p>13. Mencintai, menghormati dan memuji orang-orang yang soleh<br />
kerana amalan kebaikan mereka adalah satu pendekatan diri kepada<br />
Allah Taala. Wali-wali Allah inilah yang dimaksudkan oleh Allah<br />
sebagai orang yang beriman dan mereka bertaqwa kepadaNya. Perkara<br />
keramat berlaku kepada mereka dengan syarat yang syar&#8217;ie dengan<br />
menganggap bahawa mereka telah diredhai oleh Allah dan mereka<br />
tidak mempunyai kuasa memudaratkan atau memberikan manfaat diri<br />
mereka sendiri di kala hidup atau mati mereka tambahan pula<br />
memberikan perkara seperti itu kepada orang lain.</p>
<p>14. Menziarahi mana-mana kubur adalah perkara yang disyariatkan<br />
tetapi dengan caranya yang muktabar. Namun begitu, meminta<br />
pertolongan, memanggil orang mati (walaupun siapa dia), meminta<br />
tunaikan hajatnya dengannya secara dekat ataupun jauh, bernazar<br />
kepada mereka, menghiaskan dan menerangkan kubur mereka,<br />
menyapunya, bersumpah dengannya selain dari Allah dan sebagainya<br />
dari perkara yang bid&#8217;aah, kesemuanya itu adalah perkara yang<br />
bid&#8217;aah yang merupakan dosa besar yang wajib diperangi. Janganlah<br />
kita mentakwilkan perkara-perkara ini kerana kita hendaklah<br />
menyekat daripada berlakunya perkara-perkara tersebut (Saddu<br />
al-Zaraik).</p>
<p>15. Doa kepada Allah yang disertai dengan tawasul dengan orang<br />
lain adalah masalah khilaf furuk dalam masalah cara berdoa dan ia<br />
bukannya dari masalah akidah.</p>
<p>16. Uruf yang salah tidak akan menukarkan hakikat lafaz syariat<br />
bahkan kita wajib memastikannya dari hudud makna yang<br />
dimaksudkannya dan berhenti di situ. Begitu juga wajib kita<br />
bebaskan diri kita dari tertipu dengan kata-kata dalam setiap<br />
aspek kehidupan dan juga agama. Pengajaran diambil daripada apa<br />
yang dinamakan dan bukannya dan nama itu sendiri.</p>
<p>17. Akidah adalah asas kepada amalan dan amalan hati adalah lebih<br />
utama dari amalan anggota lain. Mencari kesempurnaan dalam amalan<br />
keduanya adalah dianjurkan oleh syarak walaupun terdapat perbezaan<br />
darjah anjuran ini.</p>
<p>l8. Islam telah membebaskan akal dan memberi galakkan supaya<br />
memerhatikan bumi ini. Islam juga telah mengangkat taraf ilmu dan<br />
ulamak dan mengalu-alukan apa yang baik dan berfaedah dalam setiap<br />
perkara. `Hikmat itu adalah perkara yang hilang dari mukminin dan<br />
sekiranya dia menjumpainya, dialah yang paling berhak dengannya.&#8217;</p>
<p>19. Kadang-kala setiap pandangan syarak dan pandangan akal<br />
menyelusup ke dalam perkara yang tidak ada pada pandangan yang<br />
kedua tetapi keduanya ini tidak akan berselisih dalam perkara yang<br />
pasti (qat&#8217;ie). Hakikat ilmiah yang sahih tidak akan bertembung<br />
dengan kaedah syarak yang tetap. Perkara yang dzan (diragui)<br />
darinya akan ditakwilkan agar bertepatan dengan perkara yang<br />
qat&#8217;ie. Jika keduanya adalah perkara yang `dzan&#8217;, maka pandangan<br />
syarak adalah lebih utama untuk dipakai dan pandangan akal ketika<br />
itu hanyalah untuk memastikannya sahaja ataupun dihapuskan terus.</p>
<p>20. Kita tidak akan mengkufurkan orang muslim yang mengikrarkan<br />
dua kalimah syahadah, beramal dengan tuntutannya dan mengerjakan<br />
fardhu-fardhunya, semata kerana pandangan ataupun maksiat yang<br />
dilakukan kecualilah jika dia mengakui dengan perkataan kufur,<br />
mengingkar perkara yang maklum dari asas yang darurat dalam agama,<br />
ataupun mendustakan al-Quran yang jelas, atau mentafsirkannya<br />
dengan tafsiran yang ditafsirkan sebagai kufur oleh gaya bahasa<br />
arab, ataupun beramal dengan amalan yang tidak boleh ditakwil lagi<br />
selain dari kufur.</p>
<p>Jika seorang akh itu mengetahui dinnya dengan usul-usul ini,<br />
ketika itu dia telah mengetahui apakah makna yang dimaksudkan oleh<br />
slogan abadinya iaitu `Al-Quran Perlembagaan Kami dan Rasul Ikutan<br />
Kami&#8217;.</p>
<p>IKHLAS</p>
<p>Maksudnya: Bahawa seorang saudara muslim itu<br />
menujukan segala perkataan, amalan dan jihadnya keseluruhannya<br />
kepada Allah, mencari keredhaan dan kebaikan balasanNya, dengan<br />
tidak melihat keuntungan, gaya, pangkat, gelaran, kemajuan ataupun<br />
kemunduran. Dengan itu dia menjadi seorang tentera kepada fikrah<br />
dan akidah dan bukannya tentera satu tujuan atau manfaat yang<br />
tertentu. Allah telah berfirman yang bermaksud: &#8220;Katakanlah bahawa<br />
sembahyangku, ibadatku, kehidupanku dan kematianku hanyalah kepada<br />
Allah tuhan sekelian alam dan dengan itulah aku diperintah&#8221; (Surah<br />
al-An&#8217;aam). Dengan itu juga seorang akh muslim itu dapat memahami<br />
makna slogan abadinya iaitu: &#8220;Allah Matlamat Kami&#8221;. Allahuakbar,<br />
kepada Allah segala pujian.</p>
<p>AMAL</p>
<p>Maksudnya: Natijah dari ilmu dan ikhlas. Firman Allah<br />
yang bermaksud: &#8220;Dan katakanlah (wahai Muhammad): &#8220;Beramallah<br />
kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman akan<br />
melihat apa yang kamu amalkan. Dan kamu akan dikembalikan kepada<br />
(Allah) Yang Mengetahui perkara-perkara yang ghaib dan yang nyata,<br />
maka Dia akan memberitahu kepada kamu apa yang kamu telah<br />
kerjakan&#8221; (Surah al-Taubah).</p>
<p>Peringkat amal yang diperlukan dari seorang akh yang benar<br />
keimanannya itu adalah:</p>
<p>1. Memperbaiki dirinya sendiri sehingga menjadi seorang yang kuat<br />
fizikal, berakhlak mulia, berpengetahuan tinggi, berupaya untuk<br />
berdikari, selamat akidah, ibadat yang sahih, berjihad dengan<br />
dirinya sendiri, menjaga masanya, teratur dalam segala urusannya<br />
dan bermanfaat kepada selain darinya. Itulah kewajipan setiap<br />
orang akh.</p>
<p>2. Membentuk rumah tangga muslim dengan membawa ahli rumahnya<br />
menghormati fikrahnya, memelihara adab-adab Islam dalam setiap<br />
urusan kehidupan, tepat dalam memilih isteri, mengikat isterinya<br />
pada hak-hak dan kewajipannya, elok tarbiyah anak-anak dan<br />
pembantu dan membesarkan mereka menurut dasar-dasar Islam. Itulah<br />
juga kewajipan setiap orang akh.</p>
<p>3. Memberi petunjuk kepada masyarakat dengan menyebarkan dakwah<br />
kebaikan, memerangi perkara keji dan mungkar, menggalakkan sifat<br />
yang mulia, menyeru kepada kebaikan, bersegera ke arah kebaikan,<br />
membawa pandangan umum kepada fikrah Islam dan mencelup kehidupan<br />
umum dengan celupan dakwah Islam. Itu adalah kewajipan jemaah<br />
sebagai pertubuhan yang beramal.</p>
<p>4. Membebaskan negara dari penjajahan kuasa asing bukan Islam sama<br />
ada penjajahan itu berbentuk politik, ekonomi ataupun rohani.</p>
<p>5. Memperbaiki kerajaan sehingga menjadi kerajaan Islam yang<br />
sebenarnya. Dengan itu ia dapat menunaikan tugasnya sebagai<br />
pembantu kepada umat, buruh dan pekerja untuk kepentingannya.<br />
Kerajaan Islam adalah kerajaan di mana anggotanya adalah muslimin<br />
yang menunaikan fardhu-fardhu Islam dan tidak melakukan maksiat<br />
dan ia menjalankan semua hukum dan ajaran Islam.</p>
<p>Tidak menjadi masalah jika kerajaan ini meminta bantuan dengan<br />
orang yang bukan Islam ketika darurat tetapi bukan dalam jawatan<br />
pemerintahan umum. Tidak menjadi masalah mengenai bentuk ataupun<br />
jenis pertolongan yang diminta selagi mana ia adalah bertepatan<br />
dengan kaedah umum dalam dasar pemerintahan Islam.</p>
<p>Di antara sifat kerajaan Islam adalah: Merasakan tanggung jawab<br />
yang diletakkan kepadanya, kasihan belas kepada rakyat, berlaku<br />
adil di kalangan manusia, cermat dalam perbelanjaan wang umum dan<br />
berekonomi padanya.</p>
<p>Antara kewajipannya adalah menjaga keamanan, melaksanakan<br />
undang-undang, menyebarkan ajaran Islam, melengkapkan kekuatan,<br />
menjaga kesihatan, menjaga kepentingan umum, menyuburkan harta<br />
benda dan menjaga wang negara, menguatkan akhlak yang mulia dan<br />
menyebarkan dakwah Islamiyyah,</p>
<p>Antara haknya pula ketika ia telah menjalankan kewajipannya itu<br />
adalah: Diberikan ketundukan dan kepatuhan, dibantu dengan diri<br />
dan harta. Jika kerajaan ini tidak menjalankan kewajipannya dengan<br />
sempurna maka ia mesti diberikan nasihat dan petunjuk, kemudiannya<br />
dipecat dan dijauhkan jika ia tidak mengikut nasihat kerana tidak<br />
ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada yang<br />
menciptanya.</p>
<p>6. Mengembalikan kehebatan antarabangsa kepada umat Islam dengan<br />
membebaskan negara-negara Islam yang dijajah, menghidupkan<br />
keagungannya, memperdekatkan peradabannya, menghimpunkan<br />
kesatuannya sehingga membawa kepada kembalinya Khilafah Islamiyyah<br />
yang telah hilang, dan mengembalikan kesatuan yang<br />
diharap-harapkan.</p>
<p>7. Membentuk kuasa besar dunia dengan menyebarkan dakwah Islam<br />
kepada setiap pelusuknya sehingga tidak ada lagi di sana fitnah<br />
dan agama itu hanyalah untuk Allah. Allah Taala enggan kecuali<br />
untuk disempurnakan NurNya (Maksud firman Allah).</p>
<p>Keempat-empat peringkat yang terakhir ini adalah wajib kepada<br />
jemaah yang bersatu dan juga kepada setiap akh dengan sifatnya<br />
sebagai anggota dalam jemaah ini. Alangkah beratnya tanggung jawab<br />
dan alangkah besarnya misi ini. Manusia lain akan memandangnya<br />
sebagai khayalan sementara akh muslim memandangnya sebagai hakikat<br />
yang ingin dicapai dan dia tidak akan berputus asa. Bagi kita,<br />
Allah adalah harapan utama kepada kita seperti mana yang<br />
dimaksudkan oleh firman Allah dalam surah Yusuf:<br />
&#8220;Dan Allah Maha Kuasa melakukan segala perkara yang telah<br />
ditetapkanNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.&#8221;</p>
<p>JIHAD</p>
<p>Maksudnya: Ia adalah satu fardhu yang<br />
berkuatkuasa sehingga hari kiamat. Begitu juga maksud dari sabda<br />
Rasulullah s.a.w yang bermaksud: &#8220;Sesiapa yang mati dan tidak<br />
berperang dan tidak berniat hatinya untuk berperang maka dia mati<br />
dalam keadaan mati jahiliyyah.&#8221; Peringkat pertamanya adalah<br />
mengingkari dari hati, peringkat tertingginya adalah berjihad di<br />
jalan Allah. Antara keduanya: Jihad lidah, pena, tangan dan<br />
perkataan yang benar kepada pemerintah yang zalim. Dakwah ini<br />
tidak akan hidup kecuali dengan jihad. Setanding dengan ketinggian<br />
dan keluasan ufuk dakwah ini, begitu jugalah besarnya kelebihan<br />
jihad di jalan dakwah, mahalnya harga yang dipinta untuk<br />
mendokongnya, besarnya balasan yang akan diberikan kepada<br />
orang-orang yang beramal. &#8220;Berjihadlah di jalan Allah dengan<br />
sebenar-benar jihad.&#8221;</p>
<p>Dengan itu kamu akan memahami apakah yang dimaksudkan dengan<br />
slogan abadi kamu: `Jihad Adalah Jalan Kami&#8217;.</p>
<p>TADHIYYAH</p>
<p>Maksudnya(pengorbanan): Mengorbankan<br />
harta, waktu, kehidupan dan segalanya untuk mencapai matlamat yang<br />
ingin dicapai. Tidak ada jihad di dunia ini yang tidak disertai<br />
dengan pengorbanan. Jangan sekali-kali unsur pengorbanan ini<br />
digugur dalam jalan fikrah ini kerana sesungguhnya di sana ada<br />
balasan dan pahala yang besar dan indah untuknya. Sesiapa yang<br />
berhenti dari memberikan pengorbanan maka dia adalah berdosa.<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah telah membeli nyawa dan harta dari mukminin.&#8221;<br />
&#8220;Katakan bahawa jika sekiranya ayah-ayah kamu dan anak-anak<br />
kamu&#8230;&#8221; &#8220;Demikian itu kerana mereka tidak ditimpa dahaga dan<br />
kekurangan&#8230;&#8221; &#8220;Jika kamu taat maka Allah akan memberikan kepadamu<br />
balasan yang baik&#8221;</p>
<p>Dengan demikian kamu akan memahami makna slogan abadimu: `Mati<br />
Syahid Di Jalan Allah adalah Setinggi Cita-cita&#8217;.</p>
<p>TAAT</p>
<p>Maksudnya: Mematuhi perintah dan<br />
melaksanakannya dengan segera sama ada dalam keadaan kesusahan<br />
ataupun kesenangan, perkara yang disukai ataupun dibenci. Ini<br />
adalah kerana peringkat dakwah ini ada tiga peringkat:</p>
<p>1. Peringkat Taarif iaitu pengenalan. Ini merupakan peringkat<br />
menyebarkan fikrah secara umum di kalangan manusia. Sistem dakwah<br />
dalam peringkat ini adalah seperti sistem sebuah organisasi.<br />
Peranannya adalah bekerja ke arah kepentingan umum. Wasilahnya<br />
adalah cara nasihat menasihati, memberikan petunjuk dan di ketika<br />
yang lain menubuhkan beberapa pertubuhan yang berfaedah dan<br />
lain-lain wasilah yang praktikal. Setiap cabang dari Ikhwan akan<br />
berfungsi di peringkat ini untuk menghidupkan dakwah dan diaturkan<br />
oleh undang-undang asas yang diterangkan oleh perutusan-perutusan<br />
Ikhwan dan majalah-majalahnya. Dakwah pada peringkat ini adalah<br />
dakwah umum.</p>
<p>Setiap orang yang berkeinginan untuk memberikan sahamnya akan<br />
berhubung dengan jemaah dalam setiap operasinya dan dia akan<br />
berjanji untuk memelihara dasar-dasar jemaah. Taat yang mutlak<br />
tidak lagi diwajibkan pada peringkat ini seperti wajibnya<br />
menghormati peraturan dan dasar-dasar umum jemaah.</p>
<p>2. Peringkat Takwin (pembentukan). Ini dilakukan dengan memilih<br />
unsur-unsur yang layak untuk menanggung bebanan jihad dan juga<br />
menyatukan antara mereka. Sistem dakwah pada peringkat ini adalah<br />
secara sufi di sudut rohani, sistem ketenteraan di sudut<br />
praktikalnya. Slogan pada dua perkara ini (amal dan taat) adalah<br />
dengan tidak berbelah bahagi, tidak menarik balik, tidak ragu dan<br />
tidak merasa tertekan. Katibah-katibah Ikhwan pada peringkat ini<br />
akan dibentuk dan akan diaturkan oleh perutusan dasar yang lalu<br />
dan juga perutusan ini.</p>
<p>Dakwah pada peringkat ini adalah berbentuk dakwah khas yang hanya<br />
akan bergabung dengannya orang yang mempunyai kesediaan sebenar<br />
untuk menanggung bebanan jihad yang panjang yang banyak cabaran.<br />
Petanda awal kepada kesediaan ini adalah taat yang mutlak dan<br />
sempurna.</p>
<p>3. Peringkat Tanfiz (Pelaksanaan). Dakwah pada peringkat ini<br />
adalah peringkat jihad yang tidak ada tolak ansur di dalamnya,<br />
amalan yang berterusan dan usaha untuk sampai kepada matlamatnya,<br />
cabaran dan bala yang hanya akan dapat disabari oleh orang yang<br />
benar. Tidak ada yang mengimbangi peringkat ini kecuali dengan<br />
taat yang sempurna juga. Atas perkara inilah generasi Ikhwan yang<br />
pertama telah berbai&#8217;ah pada hari 5 Rabiul Awal 1359 hijrah.</p>
<p>THABAT</p>
<p>Maksud thabat(keteguhan): Seorang akh itu<br />
sentiasa beramal dan berjihad dalam mencapai matlamatnya walaupun<br />
selama mana masa yang akan dilalui sehinggalah dia berjumpa dengan<br />
Allah sedang dia sudah mendapat satu antara dua perkara yang elok<br />
untuknya iaitu dapat mencapai matlamatnya ataupun mati syahid pada<br />
akhirnya. Firman Allah yang bermaksud: &#8220;Di antara orang-orang yang<br />
beriman, ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan<br />
kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur (syahid), dan<br />
di antara mereka ada yang menunggu giliran dan mereka tidak<br />
mengubah janjinya) sedikitpun&#8221; (Al-Ahzab). Pada kita, masa adalah<br />
sebahagian dari unsur rawatan. Jalan ini adalah jalan yang<br />
panjang, peringkat yang berjauhan antara satu sama lain dan banyak<br />
cabaran yang akan ditempuhi, namun begitu jalan ini sahajalah yang<br />
akan menepati maksud di samping balasan dan pahala yang banyak dan<br />
indah.</p>
<p>Itu adalah kerana setiap wasilah kita yang enam itu memerlukan<br />
persediaan yang elok, menunggu peluang yang mendatang dan<br />
ketelitian dalam pelaksanaan. Semuanya itu bergantung kepada<br />
masanya. Firman Allah yang bermaksud: &#8220;Mereka berkata kepadanya:<br />
Bilakah kemenangan itu, katakanlah kepada mereka semoga kemenangan<br />
itu adalah perkara yang hampir berlaku&#8221; (Al-Israk).</p>
<p>TAJARRUD</p>
<p>Maksudku: Kamu mengikhlaskan diri kamu<br />
untuk fikrah kamu sahaja dan tidak kepada lain-lain dasar dan<br />
peribadi. Ini adalah kerana fikrah yang kamu bawa adalah fikrah<br />
yang paling mulia, paling global dan tinggi. &#8220;Celupan Allah<br />
(celupan keimanan yang sebenar kepada Allah yang telah sebati<br />
dalam jiwa orang-orang mukmin). Dan siapakah yang lebih baik<br />
celupannya daripada Allah?&#8221; (Al-Baqarah). &#8220;Sesungguhnya telah ada<br />
bagi kamu contoh teladan yang baik pada Nabi Ibrahim dan mereka<br />
yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka:<br />
&#8220;Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan apa yang kamu<br />
sembah selain Allah, kami mengingkari kamu dan telah jelas antara<br />
kami dengan kamu permusuhan dan kebencian selama-lamanya sehingga<br />
kamu beriman kepada Allah sahaja&#8230;&#8221; (al-Mumtahanah). Di sisi<br />
seorang akh itu, manusia adalah terdiri dari enam golongan: Muslim<br />
mujahid, muslim yang menganggur, muslim yang berdosa, zimmi yang<br />
mempunyai perjanjian, tidak berpihak kepada mana-mana pihak dan<br />
kafir yang memerangi Islam. Setiap golongan ini ada hukum<br />
interaksi yang khas dengannya di dalam pertimbangan Islam. Dalam<br />
hudud pembahagian inilah, seorang peribadi ataupun sesebuah<br />
pertubuhan dipertimbangkan sama ada untuk diberikan perkongsian<br />
ataupun permusuhan.</p>
<p>UKHUWWAH</p>
<p>Ukhuwah ialah Persaudaraan : Hati-hati dan ruh<br />
terikat dengan ikatan akidah. Ikatan akidah adalah ikatan yang<br />
paling kukuh dan mahal. Persaudaraan sebenarnya adalah<br />
persaudaraan iman dan perpecahan itu adalah saudara kepada<br />
kekufuran. Kekuatan yang pertama kepada kita adalah kekuatan<br />
kesatuan, tidak ada kesatuan tanpa kasih sayang. Kasih sayang yang<br />
paling rendah adalah berlapang dada dan yang paling tinggi ialah<br />
martabat `ithar&#8217; (melebihkan saudaranya dari dirinya sendiri).<br />
Firman Allah yang bermaksud: &#8220;Dan sesiapa yang menjaga dirinya<br />
dari kebakhilan, maka mereka itulah orang-orang yang berjaya&#8221;<br />
(Al-Hasyr).</p>
<p>Akh yang benar dengan fikrahnya akan melihat saudaranya lebih<br />
utama untuk diberikan perhatian dari dirinya sendiri kerana<br />
kalaulah mereka tidak bersama dengannya pasti mereka akan bersama<br />
dengan selain darinya. Sesungguhnya serigala akan membaham kambing<br />
yang kesesatan. Mukmin dengan mukmin yang lain adalah seperti<br />
sebuah bangunan yang menguatkan antara satu sama lain. &#8220;Mukminin<br />
dan mukminat sebahagian mereka adalah pemimpin kepada sebahagian<br />
yang lain.&#8221; Inilah situasi yang perlu kita wujudkan.</p>
<p>THIQAH</p>
<p>Maksudnya: Seorang jundi itu yakin dan tenang<br />
dengan kebolehan, keikhlasan pemimpinnya dengan keyakinan yang<br />
mendalam yang akan melahirkan perasaan kasih, menghargai dan taat.<br />
Firman Allah yang bermaksud: &#8220;Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad)<br />
mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan kamu<br />
hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka,<br />
kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka keberatan dari<br />
apa yang kamu hukumkan dan mereka menerima keputusan itu dengan<br />
sepenuhnya&#8221; (An-Nisa&#8217;). Pimpinan adalah sebahagian dari dakwah dan<br />
tidak ada dakwah tanpa pimpinan. Keyakinan yang silih berganti<br />
antara pimpinan dengan tenteranya akan mencernakan kekuatan sistem<br />
jemaah, mengukuhkan strateginya, kejayaannya dalam mencapai<br />
matlamatnya dan juga kejayaannya mengatasi segala cabaran dan<br />
kesusahan yang merintang perjalanan jemaah. &#8220;Ketaatan dan<br />
perkataan yang baik adalah lebih utama kepada mereka&#8230;&#8221; Pimpinan<br />
dalam dakwah Ikhwanul Muslimin mempunyai hak seperti hak bapa<br />
kepada anaknya di sudut hubungan ruhi, hak guru dalam kepentingan<br />
akademik, hak syeikh dalam tarbiyah ruhiyyah, hak pimpinan dalam<br />
hukum politik umum dakwah. Dakwah kita adalah himpunan dari<br />
makna-makna ini. Thiqah kepada pimpinan adalah segalanya dalam<br />
usaha menjayakan dakwah ini. Oleh itu seorang akh itu hendaklah<br />
bertanya kepada dirinya sendiri soalan-soalan ini untuk mengetahui<br />
sejauh mana thiqahnya kepada pimpinannya:</p>
<p>1. Adakah dia pernah mengenali pimpinannya sebelum itu dan<br />
mengetahui keadaan hidupnya?</p>
<p>2. Adakah dia yakin dengan kebolehan dan keikhlasannya?</p>
<p>3. Adakah dia bersedia untuk menganggap setiap arahan yang<br />
diberikan kepadanya dari pimpinannya selain dari perkara maksiat,<br />
sebagai arahan yang putus dan muktamad yang tidak ada perbahasan,<br />
keraguan, tidak puas hati dan kritik selepasnya?, di samping<br />
memberikan nasihat dan petunjuk kepada perkara yang benar?</p>
<p>4. Adakah dia bersedia untuk menganggap pandangannya adalah salah<br />
dan pandangan pimpinannya adalah yang benar, jika berlaku<br />
pertembungan arahan pimpinan dengan apa yang diketahuinya dalam<br />
masalah ijtihadiyah yang tidak ada nas syarak?</p>
<p>5. Adakah dia bersedia untuk meletakkan keadaan hidupnya di bawah<br />
kepentingan dakwah? Adakah pada pandangannya, pimpinan memiliki<br />
haknya dalam menentukan antara kepentingan individunya dengan<br />
kepentingan dakwah secara umum?</p>
<p>Dengan menjawab soalan seperti ini, seorang akh itu dapat mengukur<br />
sejauh mana hubungannya dengan pimpinannya dan keyakinannya<br />
kepadanya. Ini adalah kerana hati-hati manusia adalah berada di<br />
tangan Allah dan Allah membolak balikkannya mengikut apa yang Dia<br />
kehendaki. Firman Allah yang bermaksud: &#8220;Kalaulah kamu belanjakan<br />
segala yang ada di bumi, nescaya kamu tidak dapat juga<br />
menyatu-padukan di antara hati-hati mereka, akan tetapi Allah<br />
telah menyatu-padukan di antara (hati) mereka. Sesungguhnya Ia<br />
Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana&#8221; (Al-Anfaal).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=47&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/15/10-syarat-aktivis-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Pemuda Sebagai Agen Kebangkitan Umat</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/08/peran-pemuda-sebagai-agen-kebangkitan-umat/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/08/peran-pemuda-sebagai-agen-kebangkitan-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 03:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw, beserta keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang mendukungnya, selanjutnya… Bahwa pemuda dan pemudi kita merupakan amunisi masa depan, buah cita-cita menuju kebangkitan umat, keluar dengannya dari keterbelakangan dan keterpurukan menuju kemajuan dan kecemerlangan, ketika kita menjalankan kewajiban bersama mereka dalam tarbiyah yang benar atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=36&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jayakanislam.files.wordpress.com/2009/07/images.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-62" title="images" src="http://jayakanislam.files.wordpress.com/2009/07/images.jpeg?w=614" alt=""   /></a><br />
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw, beserta keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang mendukungnya, selanjutnya…</p>
<p>Bahwa pemuda dan pemudi kita merupakan amunisi masa depan, buah cita-cita menuju kebangkitan umat, keluar dengannya dari keterbelakangan dan keterpurukan menuju kemajuan dan kecemerlangan, ketika kita menjalankan kewajiban bersama mereka dalam tarbiyah yang benar atas iman yang murni, jiwa yang baik, akhlaq yang suci dan mulia, membangun perasaan yang hidup, bersama para pemuda umat menuju kemuliaannya, bersungguh-sungguh dalam mengembalikan kemuliaannya, melindungi agama dan negerinya, mengeluarkan harta karun yang terpendam di dalamnya, memanfaatkan sumber daya alamnya, menguasai energi dan potensinya, menghilangkan berbagai halangan dan rintangan yang menghalanginya tanpa mewujudkan misi ini, siap memikul segala penat dan beban di jalan menuju tujuan ini, demikian tujuan pertama yang dibawa Ikhwanul Muslimin, sehingga mampu mengembalikan kehormatan dan kemuliaan umat, mengembalikan kepemimpinan dan jati dirinya, mengembalikan kepada alam kemanusiaan terhadap apa yang hilang darinya berbagai hidayah dan petunjuk dan menimpa mereka akan sirnanya kebahagiaan dan kebaikan; karena Allah SWT memerintahkan agar jangan sampai melakukan dakwah dan pemikiran kecuali dengan kekuatan dan potensi pemuda, dan demikianlah sirah nabi saw dan sirah para shalihin yang mengabarkan kepada kita bahwa pemuda adalah pengendali nya dan penolongnya.</p>
<p>Pemuda adalah tonggak kebangkitan</p>
<p>Pemuda dalam tubuh umat adalah sumber kekuatannya, pembuat kemuliaannya, arsitek kehidupannya, tanda menuju masa depannya, karena mereka memiliki potensi dan kekuatan, memiliki banyak waktu dan keinginan, khususnya para pelajar yang -saat ini- telah selesai melaksanakan ujian. Pemuda yang memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan pekerjaan dan amal yang sesuai keinginan mereka, ketika para pemilik ide dan hikmah di dalam tubuh umat memiliki proyek reformasi yang jujur, benar dan sesuai dengan aqidah umat, sejarahnya dan peradabannya, mereka selalu menghadirkan para pemuda; karena mereka akan terdorong dengan penuh semangat untuk mengemban amanah ini dan berjalan dengannya menuju realisasi dan kejayaan.</p>
<p>Demikianlah Ibnu Abbas mengabarkan kepada kita bahwa nabi saw bersabda pada saat perang Badar:</p>
<p>مَنْ فَعَلَ كَذَا وَكَذَا وَأَتَى مَكَانَ كَذَا وَكَذَا فَلَهُ كَذَا وَكَذَا”، فَتَسَارَعَ إِلَيْهِ الشُّبَّانُ، وَثَبَتَ الشُّيُوخُ عِنْدَ الرَّايَاتِ</p>
<p>“Barangsiapa yang melakukan ini dan ini, dan berada di tempat ini dan ini maka ia akan mendapatkan ini dan ini, maka bersegeralah para pemuda menuju apa yang disebutkan, sementara para senior (orang tua) tetap berada menjaga bendera…(Nasa’I dan Baihaqi)</p>
<p>Ibnu Abbas berkata: Tidaklah Allah memberikan kepada seorang hamba ilmu pengetahuan kecuali kepada para pemuda, karena banyak kelebihan dan kebaikan yang terdapat di dalamnya”, kemudian beliau membaca firman Allah:</p>
<p>قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ</p>
<p>“Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (Al-Anbiya:60)</p>
<p>dan firman Allah:</p>
<p>إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى</p>
<p>“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”. (Al-Kahfi:13)</p>
<p>dan firman Allah:</p>
<p>وَآَتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا</p>
<p>“Dan Kami berikan kepadanya hikmah pada usia masih kecil”. (Maryam:12)</p>
<p>Oleh karena itu di antara prioritas dakwah reformasi yang penuh berkah kami ini adalah fokus pada pemuda, dan di antara karakteristiknya adalah kuatnya penerimaan para pemuda di berbagai tempat atas dakwah Ikhwan; beriman kepadanya, mendukungnya dan menolongnya, dan berjanji kepada Allah untuk bangkit dengan realistis dan bekerja di jalannya.</p>
<p>Konspirasi yang tertuju pada pemuda Muslim</p>
<p>Namun pada saat yang dibutuhkan umat peran yang banyak dari pemuda melalui adanya qudwah hasanah dalam berbagai bidang yang beragam; justru para pemuda sedang berhadapan dengan konspirasi besar dengan beragam jenis, bentuk dan sarananya; yang dilakukan oleh kelompok penguasa melalui pengendalian potensi umat dan mimbar-mimbar tsaqafiyah, media dan tarbiyah, mazhab-mazhab yang batil, dakwah-dakwah yang sesat, film-film beraroma pornografi dan pornoaksi, narkoba yang merusak dan lain sebagainya dari berbagai corak penyimpangan dan penyesatan yang beragam, hiburan yang sia-sia, dan berbagai sarana pembawa kerusakan yang hingga sekarang masih merajalela; yang bertujuan untuk melemahkan kekuatan umat Islam dan meruntuhkan pertahanannya, menghancurkan imunitasnya, menyia-nyiakan harta dan generasinya, membunuh karakternya, menghancurkan akal para pemudanya, membuat keraguan pada agama dan manhaj-manhajnya, menjauhkan antara mereka dan nilai-nilai mulia yang ada dalam sejarah mereka, memberikan pendidikan yang acuh dan cuek, mengikuti hawa nafsu dan syahwat, tidak peduli dengan berbagai urusan umat dan mereka bekerja dalam usaha menyimpangkan para pemuda dari petunjuk pada kesesatan, menyia-nyiakan waktu dan potensi mereka pada sesuatu yang tidak bermanfaat baik agama dan dunia; sehingga mereka mampu menguasai para pemuda, berusaha menjadikan obsesi salah seorang dari mereka –pemuda dan pemudi- pada fenomena yang kosong atau makanan yang enak, pakaian yang unik, kendaraan yang mewah, pekerjaan yang mengarah materi belaka dan julukan yang kering, sekalipun herus dengan beli kemerdekaannya, menginfakkan  kehormatannya, dan menghilangkan hak umatnya. Dan oleh karena itulah umat terus berada pada keterbelakangan dihadapan umat yang mengalami kemajuan, mampu dikalahkan oleh musuh karena kelemahannya… yang demikian merupakan usaha yang berkelanjutan untuk menghancurkan obsesi dan menghilangkan permusuhan atas mereka (musuh Islam), memilah-milah para pemuda umat untuk menghancurkan akhlaq mereka, ditambah dengan ikut serta mereka saat di akhirat nanti, ke dalam neraka dan azab yang pedih… na’udzubillah.</p>
<p>Konspirasi yang selalu menimpa para pemuda #  Untuk melepaskan diri dari kesatuan berperang</p>
<p>Konspirasi yang selalu berkata kepada mereka; kemarilah # Kepada syahwat dibawah naungan minuman yang memabukkan</p>
<p>Konspirasi yang melemparkan pengaruh # Yang selalu diatur oleh syaitan pembawa kehancuran</p>
<p>Peran masyarakat Islam terhadap pemuda</p>
<p>Hendaknya diketahui bahwa masyarakat Islam membutuhkan akan pengerahan potensi yang besar untuk menghidupkan iman dalam jiwa pemuda, menumbuhkan perasaan tanggungjawab dari jiwa pemuda, baik dari para orang tua, kaum ibu, para guru, para duat, cendekiawan, wartawan dan pemimpin politik; akan pentingnya kerja sama, saling tolong menolong, dan mengerahkan segala potensi dan kekuatan dalam mengalihkan pemuda umat dari apa yang dapat membahayakan mereka agamanya, akhlaqnya dan kesehatannya, mendistribusikan kekuatan mereka kepada sesuatu yang memberikan manfaat untuk umat, dan kami melihat bahwa jalan untuk menuju hal tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Memberikan pendidikan kepada para pemuda untuk hidup di bawah naungan risalah yang mulia, membentengi mereka dengan ilmu pengetahuan dan kesadaran, dan mengobarkan semangat kesadaran yang terdiri pada ajaran Islam yang dapat merasuk dalam jiwa mereka, dan apa yang seharusnya menjadi kewajiban para pemuda akan istiqamah (integritas) dan I’tidal (sikap lurus), sesuai dengan manhaj (Platform) Islami; sehingga mampu menjalankan tugas-tugas berat, dalam memberikan pelayanan agama, nusa dan bangsa mereka. Dan saya menyeru kepada seluruh universitas dan lembaga-lembaga ilmiah; milik pemerintah dan swasta, dan kelompok –kelompok yang memiliki perhatian terhadap kemajuan umat masa sekarang dan masa depan bangsa untuk memperhatikan hal ini, dan itu berarti mendidik pemuda bangsa dan orang-orang yang bijaksana untuk memiliki kesadaran, dan siap menghadapi dengan sungguh-sungguh terhadap berbagai konspirasi, menyadari apa yang diinginkan umat Islam dari berbagai niat jahat dan licik, dan jadikanlah tema tatsqif kepada para pemuda:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (At-Taubah:119)</p>
<p>وَلاَ تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ. الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ</p>
<p>“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak Mengadakan perbaikan”. (As-Syu’ara:151-152)</p>
<p>2. Berusaha mencari alternatif yang lebih baik untuk mengisi kekosongan yang mendorong pemuda jatuh pada penyimpangan akhlaq. Dan dalam hal ini saya menyeru kepada pusat-pusat kepemudaan dan olah raga baik pemerintah maupun swasta,  club-club sosial, dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk memasukkan dunia Islam pada pelaksanaan daurah-daurah ilmiah dan keterampilan yang bermanfaat bagi pemuda, mengarahkan mereka untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan nyata yang beragam, sehingga mereka terbiasa untuk aktif dan merasakan eksistensi dan keberadaan mereka dalam hidup ini.</p>
<p>3. Membuka kesempatan kepada para pemuda untuk ikut serta dan aktif dalam proyek kebangkitan dan reformasi yang integral, menyadari akan potensi mereka, sehingga dengan itu mereka terbiasa melakukan nilai-nilai positif, meninggalkan sikap acuh dan ketidakpedulian serta sikap-sikap negatif yang telah banyak merasuk dalam  kehidupan para pemuda. Dan dari sini saya menyeru kepada para cendekiawan, koresponden politik, serta lembaga-lembaga tsaqafah, kelompok-kelompok dan yayasan-yayasan yang memiliki hubungan dengan penumbuhan kesadaran dan wawasan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan pendapat, dan mendiskusikan permasalahan pemuda dan menyimak pendapat-pendapat mereka, menumbuhkan keahlian mereka untuk dapat ikut serta dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi umat, dan bersegera melakukan kebangkitan dengannya.</p>
<p>4. Kepada para ulama yang memiliki perhatian terhadap pemuda hendaknya bersungguh-sungguh dalam menyatukan para pemuda umat ini, memberikan arahan kepada mereka, menghancurkan batu penghalang antara mereka dengan para pemuda umat, mengembalikan perasaan tsiqah yang telah hilang dari mereka, melalui mobilisasi peran positif mereka secara kongkret dalam memimpin kebangkitan ini, melalui pengokohan diri pada kalimat yang hak, memberikan peringatan kepada para pemuda dan umat akan berbagai fenomena yang menafikan dan bertentangan dengan syariat Allah SWT; yaitu dengan selalu menjaga persatuan umat, potensi dan kepemudaannya, dan juga menyatukan keseluruhannya untuk menghadapi ancaman yang berbahaya tersebut.</p>
<p>Saya sampaikan bahwa para ulama memiliki peran yang besar dalam menjaga dan melindungi pemuda, memberikan kepuasan akan kebutuhan ilmiah dan tarbiyah mereka, kepuasan dalam ilmu yang benar dan tarbiyah yang sungguh-sungguh, diiringi dengan taqwa kepada Allah terhadap apa yang akan datang, yang ditinggalkan, difatwakan dan diberikan wawasan, karena tanpa ini semua maka para pemuda akan mencari kesibukan sendiri terhadap sesuatu yang dapat membangkitkan semangat mereka, memahami potensi dan kemampuan mereka bukan pada koridor yang sebenarnya, padahal Allah telah mengambil perjanjian dan menegaskan perjanjian tersebut pada ulama di setiap kepercayaan untuk menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya:</p>
<p>وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ</p>
<p>“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,“(Ali Imran:187)</p>
<p>dan firman Allah:</p>
<p>إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ* إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah tobat dan Mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah aku menerima tobatnya dan Akulah yang Maha menerima tobat lagi Maha Penyayang”. (Al-Baqarah:159-160)</p>
<p>Wahai para ulama murabbi ..(ketahuilah) bahwa pembinaan Pemuda bangsa atas kebanggaan, keberanian, kerja keras dan kesungguhan merupakan tanggung jawab kalian, dan kalian adalah yang paling berhak dan ahlinya.</p>
<p>5. Kepada para pemimpin bangsa dalam berbagai bidang dan tingkatan; hendaknya memberikan kesempatan kepada para pemuda beberapa posisi dan tanggung jawab, dengan memberikan kesempatan kepada mereka yang dapat membuat mereka bebas bergerak dan memilih; guna mempersiapkan mereka, dan mengembangkan bakat dan mengeksplorasi potensi yang mereka miliki, dan juga memberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tua dan sesepuh, untuk mengambil manfaat dari pengalaman dan mencontoh ibrah dari pengalaman mereka; sehingga menyatu antara potensi pemuda dengan kebijaksanaan dari orang tua, membuahkan hasil menjadi orang yang cerdas dalam memberikan pendapat dan baik dalam kerja, dan demi Allah… Umar bin Al-Khathab, yang mengambil dari pemuda umat ini yang memiliki kesadaran dan pencerahan untuk menjadi penasihatnya; ikut serta dalam majelis bersama para senior dan pemimpin, dan memberikan sesuatu (pendapat) yang bermanfaat untuk bangsa.</p>
<p>Apakah sama orang yang berfikir  maju # Dengan orang yang berfikir mundur</p>
<p>Barangsiapa yang mencari tujuan bukan pada # Kebenaran tidak akan sampai pada tujuan</p>
<p>Nasihat untuk para pemuda Ikhwanul Muslimin</p>
<p>Sejak tujuh puluh tahun lalu ada enam pemuda dari universitas Mesir hadir; mereka menyerahkan diri dan tenaga mereka karena Allah, dan mereka bergerak untuk menyebarkan dakwah yang benar, petunjuk dan kebahagiaan antara pemuda di universitas-universitas, dan Allah mengajarkan kepada mereka keikhlasan dan kejujuran, memberikan dukungan dan kekuatan kepada mereka, sehingga dalam universitas tersebut seluruhnya bagian dari pendukung Ikhwanul Muslimin, mencintai dan menghormati mereka dan berharap dari mereka mendapatkan kesuksesan, dan dari pemuda universitas tersebut ada kelompok yang mulia dan beriman ikut serta dalam berdakwah, dan menyebarkan kabar gembira di setiap tempat, dan bergerak dari perkotaan ke pedesaan, sehingga akhirnya masyarakat dari perkotaan, pedesaan dan dusun menerima dakwah mereka.</p>
<p>Dan hal Ini memiliki dampak yang besar dalam kebangkitan suatu bangsa, tidak hanya terbatas penerimaan pemuda atas kelompok pelajar, orang-orang terkemuka dan yang lainnya saja namun juga pada kalangan rakyat yang beriman mau menerima dakwah ini, dan bahkan menjadi sebaik-baik pendukung dalam perjalanan dakwahnya, betapa banyak dari kalangan pemuda yang tersesat akhirnya mendapatkan hidayah, dalam kebingungan akhirnya mendapat petunjuk, terjerumus dalam kemaksiatan lalu Allah memberikan arahan menuju ketaatan, tidak mengenal tujuan hidup lalu diberikan arahan akan tujuan hidupnya</p>
<p>يَهْدِي اللهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ</p>
<p>“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki “. (An-Nuur:35)</p>
<p>Mereka para pemuda yang memiliki denyut nadi, yang mencintai negara dan bangsa peran mereka yang besar dalam memerdekakan keinginan umat dan dalam menghadapi proyek penjajahan, sekiranya tidak ada pengkhianatan oleh sebagian rezim pemerintah maka akan terwujud apa yang menjadi keinginan mereka dalam menghancurkan proyek Zionisme, namun itulah takdir Allah dan tidak bisa dipungkiri akan adanya hikmah dibaliknya.</p>
<p>Dan pada kurun 30 tahun yang lalu, ada juga kelompok dari para pemuda Ikhwanul Muslim di Universitas-universitas Mesir aktif dalam menyebarkan dakwah pada kebaikan dan cahaya di tengah para pemuda lainnya, terutama setelah para thagut menduga bahwa mereka telah hancur, padahal para pemuda tersebut telah mendapatkan hikmah dan pengalaman dari para orang tua, memahami risalah dan dakwah, saling melakukan tanya jawab bersama pemuda Islam yang haus pada dakwah yang benar, sehingga dakwahpun menyebar kembali kepelosok negeri Mesir, bahkan hingga menjangkau negara-negara Arab dan Islam dan bahkan negara minoritas muslim, para pembela kebenaran melihat cahaya kebenaran ini dan tunduk kepadanya, dan mereka selalu mendengarkan akan cahaya kebenaran lalu menerimanya.</p>
<p>Bersamaan dengan berbagai kendala dan hambatan yang merintang di jalan dakwah dan reformasi; mereka menemukan cara untuk masuk ke dalam hati bangsa, melalui keteguhan para pemuda dan ketegarannya, yang menyadari nilai risalah yang mereka pegang dan hormati, dan kebutuhan negara dan bangsa akan perjuangan dan pengorbanan mereka, mereka terus melakukan kebaikan di berbagai bidang, dan memberikan prestasi di berbagai penjuru, dan menghadirkan teladan yang indah kepada negara, kesetiaan dan pengorbanan.</p>
<p>Kami melihat ini sebagai tanda petunjuk, dan kami terus melihat kemajuan yang menyeru kami untuk memiliki cita-cita yang kuat, ketekunan dan komitmen serta melipat gandakan kerja keras</p>
<p>وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ</p>
<p>“Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Imran: 126).</p>
<p>Karena itu wahai para pemuda Ikhwanul Muslimin di berbagai penjuru.. berpegang teguhlah kalian pada agama kalian, dan bertebaranlah membawa dakwah yang benar bersama Ikhwan kalian yang lainnya..</p>
<p>Berjalanlah, karena kalian adalah bak kuda dan hatinya # Sinarilah bumi dengan membawa citra dan cahaya</p>
<p>Berjalanlah dengan membawa berkah Allah dan menyebarlah # Kami akan menjadi telinga yang siap mendengar dan mata yang siap melihat</p>
<p>Ingatkanlah kepada kami hari-hari telah lewat # Sungguh kami telah lupa akan waktu dan usia</p>
<p>Kami menginginkan para pemuda untuk menentang pemerintah yang korup dan musuh bangsa dan agama, dan membalikan meja para pelaku konspirasi pemuda bangsa ini dan menyeru:</p>
<p>Saya adalah seorang muslim yang berusaha menyelamatkan dunia # Menuju cahaya, keimanan dan bahagia</p>
<p>Sungguh ironi terhadap ujian yang menimpa umat ini # Yang telah jauh dari jalan Pemberi hidayah</p>
<p>Nasihat untuk para pemuda umat ini.. laki-laki dan wanita</p>
<p>Kalian adalah cita-cita dan harapan bangsa, dan kami mengetahui bahwa dalam diri kalian ada kebaikan yang besar, karena itu rasakanlah selalu wahai para pemuda apa yang sedang dialami oleh umat dan bangsa ini akan kehinaan, penindasan, realita yang menyedihkan, kondisi yang memilukan tidak menjanjikan akan kebebasan dan kemerdekaan yang diidamkan. Dan sadarilah, bahwa karena kalian lambat dalam bertobat dan kembali kepada Allah, menjadi sebab lambatnya kebenaran yang muncul di permukaan. Dan karena kalian bermalas-malasan dalam mengerahkan tenaga dan fikiran dalam berdakwah pada kebenaran dan reformasi; maka menjadi penyebab lambatnya kemenangan umat kalian; karena Allah telah menjanjikan kepada kita kekuatan, kemuliaan dan kemenangan jika kita melaksanakan perintah-Nya dan komitmen dengan syariat-Nya.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ</p>
<p>“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad:7)</p>
<p>Ketahuilah wahai para pemuda Islam, bahwa kebahagiaan di dunia dan akhirat berada di jalan ketulusan dan dakwah kepada Allah serta dengan selalu menjalin komunikasi yang baik dan pembawa sumber cahaya kepada umat baik dari para duat, orang-orang shalih, ulama, pemberi nasihat dan Ikhwan yang jujur.</p>
<p>Wahai para pemuda Muslim di segala penjuru</p>
<p>Kalian harus menjadi contoh yang memberikan pengaruh dalam kehidupan umat dan negeri kalian, kalian harus memiliki peran positif dalam melakukan perubahan terhadap kondisi yang memilukan ini; menuju realita yang lebih diridhai karena Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman, dan benarlah ungkapan di bawah ini:</p>
<p>يا معشر الشباب، اعملوا.. فإنما العمل في الشباب</p>
<p>“Wahai para pemuda, bekerjalah… karena sesungguhnya kerja itu ada dalam diri pemuda”.</p>
<p>Wahai para pemuda umat…</p>
<p>Jika saat ini kalian tidak mampu menguasai diri kalian, tidak mau bersungguh-sungguh mengendalikan syahwat dan kecenderungan kalian, malah untuk mengerahkan tenaga pada umur yang baik kalian demi tegaknya aqidah, negeri dan masa depan umat kalian, kapan lagikah hal itu terjadi?!</p>
<p>Karena itu kemarilah bersama kami, kemarilah bersama kami wahai para pemuda… agar kita bisa berbuat dan bekerja bersama-sama membuat fajar baru, mengembalikan bersama-sama untuk mengembalikan kemuliaan yang dinanti-nantikan yang sedang dinanti-nantikan.</p>
<p>Wahai para pemuda generasi Islam kembalilah # Kalian adalah ruhnya dan dengan kalian akan menjadi pemimpin</p>
<p>Kalian adalah rahasia kebangkitan yang telah lama hilang # Dan kalian adalah fajarnya yang membawa cahaya baru</p>
<p>Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah</p>
<p>Shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw, beserta keluarganya, para sahabatnya dan pengikutnya..</p>
<p>Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.<br />
Sumber : www.al-ikhwan.net</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=36&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/08/peran-pemuda-sebagai-agen-kebangkitan-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jayakanislam.files.wordpress.com/2009/07/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>APAKAH KITA AKTIVIS DAKWAH</title>
		<link>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/08/apakah-kita-aktivis-dakwah/</link>
		<comments>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/08/apakah-kita-aktivis-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 03:40:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abufurqon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jayakanislam.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Pada risalah yang lalu, “Kepada Apa Kita Menyeru Manusia?” kami telah menjawab pertanyaan yang banyak dilontarkan orang. Setiap kali mereka diajak untuk mendukung jamaah Ikhwanul Muslimin, mereka selalu bertanya, “Kepada apa jamaah Ikhwanul Muslimin menyeru?” Pada risalah yang lalu itulah saya harus menjawab dan menjelaskan dasar-dasar dakwah ini dengan jawaban tuntas yang dapat memuaskan hati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=34&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><br />
Pada risalah yang lalu, “Kepada Apa Kita Menyeru Manusia?” kami telah menjawab pertanyaan yang banyak dilontarkan orang. Setiap kali mereka diajak untuk mendukung jamaah Ikhwanul Muslimin, mereka selalu bertanya, “Kepada apa jamaah Ikhwanul Muslimin menyeru?” Pada risalah yang lalu itulah saya harus menjawab dan menjelaskan dasar-dasar dakwah ini dengan jawaban tuntas yang dapat memuaskan hati orang-orang yang bertanya tersebut. Secara global, saya telah jawab dengan menerangkan prinsip-prinsip dakwah ini pada risalah yang pertama, kemudian saya merincinya pada risalah selanjutnya. Dengan demikian, maka tidak ada lagi alasan bagi orang yang ingin mengenal secara global maupun rinci tentang hakikat dakwah Ikhwanul Muslimin, untuk mengatakan bahwa dia tidak tahu.</p>
<p>Ada lagi pertanyaan yang tersisa, yang banyak dilontarkan orang ketika diajak memberikan dukungan kepada jamaah ini; yang beraktivitas siang dan malam tanpa mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari siapa pun, kecuali hanya dari Allah. Mereka pun tidak menyandarkan langkah-langkahnya, kecuali kepada dukungan dan pertolongan-Nya, karena ‘tidak ada kemenangan kecuali dari sisi-Nya’. Pertanyaan tersebut, yang sering dilontarkan dengan nada sinis, adalah: Apakah jamaah ini merupakan jamaah aktif, dan kadernya adalah para aktivis?</p>
<p>Orang yang bertanya ini adalah salah satu dari orang-orang dengan tipe berikut:</p>
<p>Seorang pengumbar hawa nafsu yang perangainya destruktif, yang ketika melontarkan pertanyaan ini bertujuan hanya untuk membuat kekacauan di tubuh jamaah dan prinsip pemikirannya, serta para pendukungnya yang tulus. Ia tidak menganut agama, jika tidak mendapatkan keuntungan pribadi. Ia tidak peduli dengan urusan orang lain, kecuali jika menguntungkan dirinya.<br />
Seorang pribadi yang lalai akan dirinya sendiri dan terhadap orang lain. Ia tidak memiliki tujuan hidup, tidak memiliki prinsip pemikiran, dan tidak pula aqidah.<br />
Mungkin ia adalah sisik yang hobinya bersilat lidah dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang indah-indah agar dianggap sebagai orang ‘berisi’, meski kenyataannya ‘tong kosong berbunyi nyaring’ dengan perilakunya, ia ingin membersitkan kesan di benak kalian bahwa dirinya adalah sosok pencinta amal. Ia senantiasa berusaha membersitkan kesan itu, namun tidak pernah menemukan jalan. Ia menyadari betul kebohongan dirinya dengan lontaran kata-katanya itu, dan itu dilakukan hanya untuk menutupi kelemahannya.<br />
Mungkin ia seorang yang tengah berupaya untuk melemahkan semangat orang-orang yang menyeru dakwah, agar-dengan lemahnya semangat itu-ia punya alasan untuk menampik seruannya, untuk merespon secara dingin, dan akhirnya berpaling dari amal jama’i.</p>
<p>Golongan yang manapun dari mereka itu, jika Anda menemuinya di jalan lalu Anda jelaskan padanya manhaj amal yang produktif, Anda tuntun mata-telinga, akal pikiran, dan tangannya menuju jalan yang benar, niscaya mereka akan berpaling juga dalam keadaan bingung, jiwanya guncang, bibirnya gemetar untuk berbicara, geraknya meragukan, dan diamnya pun tampak salah tingkah. Ia lalu menyampaikan kata-kata ‘maafnya’ dan meminta kesempatan di waktu yang lain saja. Akhirnya, ia pun menghindar darimu dengan seribu satu alasan. Itu semua dilakukan setelah ia-dengan gigihnya-berdiskusi denganmu berlama-lama, dan setelah itu-engkau lihat, ia bahkan merintangi jalan dengan congkaknya.</p>
<p>Perumpamaan mereka itu seperti sepotong cerita bahwa ada seseorang yang dengan semangatnya menghunus pedang, tombak, dan senjata lainnya. Setiap malam ia pandangi senjata-senjata itu dengan gerakan geram karena tidak kunjung menemui musuhnya untuk bias menunjukkan keberanian dan kepahlawanannya. Suatu saat, istrinya ingin menguji kesungguhannya. Dibangunkanlah ia pada tengah malam sembari memanggilnya dengan nada meminta bantuan, “Bangunlah pak, kuda-kuda perang telah mendobrak pintu rumah kita.” Seketika ia terbangun dalam keadaan gemetaran dan wajahnya pucat pasi sambil bergumam ketakutan, “Kuda perang, kuda perang …” Hanya itu yang ia ucapkan, tidak lebih. Ia bahkan tidak berusaha untuk membela diri. Tatkala waktu pagi tiba, hilanglah akal sehatnya karena ketakutan yang amat sangat dan terbanglah pula nyalinya, padahal ia belum terjun ke medan perang secara nyata dan belum menjumpai seorang musuh pun.</p>
<p>Seorang penyair bertutur:</p>
<p>Kalaupun seorang pengecut tinggal sendiri di bumi<br />
Ia ‘kan menantang tombak dan peperangan</p>
<p>Allah swt. Berfirman,<br />
“Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah kepada kami.’ Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam., sedangkan mereka bakhil untuk berbuat kebaikan . mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Ahzab: 18-19)</p>
<p>Untuk orang-orang seperti ini kita tidak perlu memberi komentar. Kita tidak perlu menjawab mereka, kecuali dengan kata-kata, “Semoga keselamatan atas kalian dan kami tidak membutuhkan orang-orang jahil.” Bukan untuk mereka kita menulis dan bukan kepada mereka dan kita berbicara. Kita telah lama berharap kebaikan untuk mereka dan kita telah tertipu oleh mulut manisnya suatu waktu, lalu terbukalah kedok mereka dan terungkaplah apa yang ada di balik kata-katanya itu. Kita melihat beragam sosok dan kelompok mereka yang membuat hati ini semakin tidak cenderung kepadanya dan tidak sekali-kali akan menyerahkan urusan kepada mereka, meskipun sepele.</p>
<p>Ada lagi kelompok lain: sedikit jumlahnya, tetapi besar kesungguhannya; langka bilangannya, tetapi diberkati dan dilindungi oleh Allah. Mereka bertanya kepadamu dengan pertanyaan serupa ketika diajak untuk mendukung dan bergabung dengan jamaah ini, namun dengan hati yang tulus. Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah dipenuhi dengan kerinduan untuk berbuat, sehingga kalau saja mengetahui jalan untuk itu, mereka pasti terjun seketika. Mereka adalah para mujahid, namun tidak kunjung menjumpai medan jihad yang dapat membuktikan kepahlawanannya. Mereka telah banyak berinteraksi dengan berbagai kelompok dan telah pula mengkaji berbagai lembaga dan organisasi dakwah, namun tidak menjumpai sesuatu yang memuaskan hatinya. Jika saja mereka menjumpai apa yang mereka inginkan di sana, mereka pasti menempati posisi di barisan pertama dan menjadi bagian dari para aktivis yang tekun.</p>
<p>Kelompok ini telah hilang dan sedang dinanti kedatangannya. Saya yakin sepenuhnya, jika saja seruan ini terdengar olehnya dan sampai di hatinya, mereka pasti akan menjadi salah satu dari dua golongan: golongan aktivis atau-paling tidak-golongan simpatisan; dan tidak mungkin menjadi yang ketiga. Mereka, kalaupun tidak mendukung fikrah ini, tidak akan pernah sekali-kali menjadi musuhnya. Untuk kelompok inilah kita menulis, kepada merekalah kita berbicara, dan bersama merekalah kita saling memahami. Allah swt. Sendirilah yang memilih tentara-tentara-nya dan menyeleksi para aktivis dakwah-Nya.</p>
<p>“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Al-Qashash:56)</p>
<p>Mudah-mudahan kita sepakat akan apa-apa yang kita inginkan Allah swt. Berfirman dengan kebenaran dan hanya Dialah petunjuk jalan.</p>
<p>Kepada Putra-Putra Islam Yang Penuh Semangat</p>
<p>(Dimuat oleh harian Ikhwanul Muslimin, Edisi XV, 6 Jumadil Ula 1353 H)</p>
<p>Kepada kelompok ini, yang berkepribadian mulia, yang berhati jernih, yang bercita-cita tinggi, yang berjiwa terhormat, yang cinta bekerja, dan menjadi tumpuan harapan, dimana seorang penyair telah putus asa mendapatkan orang semacamnya:</p>
<p>Telah sekian lama ‘ku bergaul dengan banyak orang<br />
pengalaman demi pengalaman menempaku<br />
tiada hari datang kepadaku<br />
kecuali menyenangkan di jumpa-jumpa pertama<br />
namun menyakitkan jua di akhirnya</p>
<p>kami katakan, “Kalian kini berada di hadapan seruan dakwah yang baru. Kaum muda menyeru kalian untuk bekerja bersama mereka dan bergaul dengannya untuk menuju suatu tujuan, yang ia adalah cita-cita setiap muslim dan harapan setiap mukmin. Adalah hakmu bertanya tentang sejauh mana persediaan sarana operasional jamaah. Dan kewajibanmu pula untuk mengetahui lebih dalam terhadap apa yang diserukan kepadamu.</p>
<p>Saya merasa kagum akan kejujuran dan ketulusan mereka untuk bergabung dengan jamaah kita. Mereka minta penjelasan terhadap setiap kata dan setiap ungkapan kepada saya. Mereka mengkonsultasikan setiap sarana yang dipergunakan, hingga jika sudah merasa puas, mereka segera menyampaikan pesan-pesannya dengan keyakinan yang bulat, jelas maksudnya, dan riil pula dampaknya. Mereka senantiasa bekerja dengan kesungguhan yang penuh hingga saat ini, dan saya berharap akan terus begitu dengan izin Allah. Namun demikian, saya mempunyai beberapa catatan untuk mereka, antara lain:</p>
<p>Daripada mereka membuang waktu untuk berbagai pertanyaan ini, bukankah lebih baik jika bergabung saja dan bekerja dengan jamaah? Jika mereka melihat kebaikan di sana, itulah yang semestinya. Namun jika tidak, maka jalan untuk keluar dan melepaskan diri dari Jamaah ini demikian jelas membentang, apalagi pintunya ada di dua tempat: tempat masuk dan tempat keluar. Aktivitas jamaah begitu jelas, tidak ada yang tersembunyi dan tidak misterius. Dahulu ada cerita bahwa para ahli nahwu berselisih pendapat tentang jumlah bait Alfiyah (pelajaran nahwu yang dipuitisasikan) Ibnu Malik. Perselisihan ini telah memancing perdebatan serius yang justru tidak mendatangkan manfaat, hingga akhirnya datanglah salah seorang tokoh dengan membawa bukunya dan berkata, “Inilah dia, hitunglah dan sepakatlah.” maka dengan itulah perselisihan bisa diselesaikan.</p>
<p>Inilah Jamaah Ikhwanul Muslimin, wahai sahabatku. Di setiap tempat, ia menyeru orang dan membuka pintu lebar-lebar sembari berkata, “Marilah, jika Anda lihat sesuatu yang menyenangkan hati, maka bergabunglah bersama dengan berkah Allah. Jika tidak melihat yang demikian, maka berkatalah sebagaimana yang dikatakan Basyar:</p>
<p>Jika suatu negeri mengingkari<br />
Atau aku mengingkarinya<br />
Aku pun segera keluar bersama burung-burung<br />
Dan penduduknya</p>
<p>Tidakkah mereka tahu bahwa jamaah itu tiada lain adalah sekumpulan individu yang terikat? Jika setiap individu bertanya dengan pertanyaan “Maka di manakah jamaah itu sebenarnya?” ini adalah tipuan logika belaka yang banyak diikuti orang. Jika Anda ingin mengenalkan kursi misalnya, Anda akan mengatakan bahwa ia adalah benda yang terdiri dari tiga unsur tempat duduk, sandaran dan empat buah kaki. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa definisi ini adalah tidak benar dan menipu? Kenapa demikian, karena apakah benda itu sesuatu yang ada di luar ketiga unsur tersebut? Jika Anda pisahkan kursi itu dari kaki-kakinya, tempat duduk, dan sandarannya, apakah masih ada sebuah benda yang bisa diidentifikasi sebagai kursi?</p>
<p>Demikian juga, orang banyak tertipu dalam memahami hakikat jamaah dan individu. Mereka mengira bahwa jamaah itu sesuatu sedangkan individu adalah sesuatu yang lain. Padahal jamaah itu tidak lain kecuali kumpulan dari individu-individu, dan individu-individu itu adalah komponen bangunan jamaah itu sendiri. Apabila komponen bercerai-berai dan setiap mereka bertanya dengan pertanyaan “Lalu di mana jamaah itu?” siapa yang bertanya dan siapa yang ditanya? Kita sering memahami secara keliru seperti demikian ini disebabkan oleh kebiasaan kita bersikap kurang bertanggung jawab; kita menimpakan beban tanggung jawab hanya pada pundak seseorang. Berikutnya lahirlah sikap masa bodoh, tidak tahan uji menghadapi keadaan, dan tidak kunjungan melangkah lebih maju.</p>
<p>Kami serukan kepada para putra Islam yang memiliki semangat bahwa seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani. Maka haram hukumnya bagi orang semacam ini untuk tertinggal dari kafilah dakwah, meskipun sesaat. Dan tidakkah mereka memahami bahwa hendaknya mereka segera bergabung dengan jamaah ini. Jika mereka menjumpai bahwa jamaah ini adalah jamaah yang aktif sebagaimana mestinya, maka berbahagialah. Namun jika mereka tidak menjumpai yang demikian itu, tunjukkan kepribadian dan kekuatan pengaruhnya untuk membangun sesuatu yang seharusnya ada. Kalau ternyata apa yang mereka upayakan tidak bisa diterima, mereka telah mendapatkan pemakluman dari Tuhan dan dirinya. Apalagi jika orang-orang yang menyeru dakwah ini adalah kaum yang mengetahui bahwa di atas orang yang memiliki pengetahuan dan Dzat yang Mahatahu, dan bahwa setiap orang yang memiliki pendapat berhak menyampaikan pendapatnya. Lihatlah Rasulullah saw. Jika dibanding dengan manusia seluruhnya, pendapatnya adalah sebenar-benar pendapat dan pemikirannya adalah sematang-matang pemikiran, namun ia mengambil juga pendapat Hubaib ra saat perang Badar dan pendapat Salam saat perang Khandak. Mereka tentu saja sangat bahagia, karena ada yang mengambil pendapatnya untuk suatu pekerjaan yang benar.</p>
<p>Tidakkah mereka mengetahui bahwa jika mereka telah mencoba sekali, dua kali, atau lebih dari itu, namun belum juga berhasil, janganlah putus asa. Mereka harus ‘memainkan bola’ terus-menerus sehingga menciptakan ‘gol’ pada saatnya. Jika mereka tergesa-gesa dan cepat putus asa, hilanglah kesempatannya untuk memperoleh keberuntungan itu.</p>
<p>Hal ini persis sebagaimana kisah seorang pemburu ikan. Suatu saat ia mendapat ikan yang besar. Lalu ia melihat di dasar air itu ada rumah karang yang disangkanya mutiara. Demi melihat itu, ditinggalkanlah ikan yang sudah di tangan untuk mengambil rumah karang. Ketika ia melihat dari dekat, hatinya menyesal. Kemudian ia melihat ikan kecil membawa mutiara, namun ia tidak mengacuhkannya karena disangka rumah karang. Akhirnya ia hanya mendapatkan ikan kecil, serta kehilangan ikan besar dan mutiara, sesuatu yang berlipat-lipat lebih berharga, atau seperti seekor itik di suatu danau. Ia melihat bayangan di dasar air yang disangkanya ikan. Ia berusaha menjulurkan paruhnya untuk mendapatkannya. Ia mematuknya berkali-kali hingga kecapaian lalu ditinggalkan dengan perasaan marah. Sejenak kemudian berlalulah ikan di hadapannya. Ia acuh tak acuh karena menganggapnya bayangan. Lalu ia pun meninggalkannya. Dengan begitu ia merugi dan kehilangan kesempatan berharga dan sirnalah pula harapannya.</p>
<p>Inilah beberapa catatan, yang perlu saya sampaikan kepada orang-orang yang ingin beraktivitas dalam Islam dari kalangan putra-putranya. Saya pikir ini patut direnungkan dalam-dalam. Kami serukan dakwah Ikhwanul Muslimin ini kepada mereka. Hendaklah mereka mencoba bergabung dengannya. Jika mereka mendapati kebaikan, dukunglah dan jika mendapati kebengkokan, luruskanlah. Jangan sampai percobaan mereka menjadi penghalang bagi kemajuan bersama. Saya berharap mereka menyaksikan pada diri Ikhwan pemandangan yang menentramkan hati, insya Allah. Saya akan menyampaikan lagi sebagian keterangan pada kesempatan mendatang.</p>
<p>Yayasan-Yayasan Dan Proyek-Proyek</p>
<p>Pemikiran Ikhwanul Muslimin telah tersebar di lebih dari lima puluh wilayah di Mesir. Di setiap wilayah tersebut, Ikhwan, Mendirikan proyek-proyek amal dan lembaga-lembaga sosial. Engkau, dapat menyaksikan, di Ismailiyah telah dibangun masjid dan gelanggang Ikhwanul Muslimin. juga dibangun lembaga pendidikan Islam Hira’ untuk anak-anak, dan sekolah untuk kaum ibu muslimah dalam rangka memberi bekal kepada mereka bagaimana mendidik putra putrinya.</p>
<p>Di Syibrakhit juga didirikan masjid Ikhwan, gelanggang olah raga, dan ma’had (lembaga pendidikan) Hira’ dalam satu kompleks. Di sebelah kompleks yang besar itu dibangun gedung latihan yang diperuntukkan bagi siswa-siswa ma’had yang tidak bisa menyelesaikan pendidikan. Jamaah ini membekali mereka dengan berbagai keterampilan. untuk mencetak tenaga trampil yang berwawasan dan pekerja yang bermoral.</p>
<p>Di Mahmudiyah Al-Buhaira didirikan proyek seperti itu pula, Di sana dibangun pabrik tenun untuk memproduk karpet, sajadah, dan yang semacamnya, persis di sebelah ma’had Tahfizhul Qur’an yang bertempat di gelanggang Ikhwanul Muslimin. Ma’had Tahfizhul Qur’an telah mengeluarkan banyak alumnus, padahal waktu berdirinya belum terlalu lama. Lihatlah, para penghafal Qur’an yang lihai bermunculan dalam waktu yang relatif singkat, di mana hanya sedikit saja dari lembaga pendidikan yang ada yang dapat menghasilkan serupa itu.</p>
<p>Rasanya tidak perlu saya tuliskan satu persatu, yang jelas bahwa setiap cabang Ikhwanul Muslimin hampir di seluruh wilayah Mesir telah mendirikan berbagai proyek sosial, dari Adfoo hingga Iskandariyah.</p>
<p>Di banyak yayasan Ikhwan, kita dapati lembaga yang menangani kerja sosial di bidang advokasi. Dengan izin Allah, Ikhwan dapat menyelesaikan berbagai kasus dengan segera, yang jika ditangani oleh lembaga hukum pemerintah akan membutuhkan waktu yang lama.</p>
<p>Ada lagi lembaga yang bergerak di bidang santunan sosial, khususnya kepada para fakir miskin di hari-hari raya. itu semua untuk meringankan beban mereka di satu sisi dan untuk ikut membentengi mereka dari upaya licik kelompok zeding (Kristenisasi) di sisi yang lain.</p>
<p>Banyak juga lembaga Ikhwan yang aktif di bidang; penerangan dan konseling yang bergerak di tempat-tempat yang belum atau tidak tersentuh oleh aktivitas tersebut, seperti warung-warung kopi, gelanggang-gelanggang umum, tempat-tempat pesta, dan forum-forum upacara kematian.</p>
<p>Di banyak tempat, khususnya daerah perkampungan, Ikhwan juga mendirikan lembaga yang bergerak di sektor pelayanan umum, seperti: pembangunan masjid, pembersihan jalan, penetangan gang-gang, pengadaan puskesmas keliling, dan usaha-usaha lain yang mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat, baik untuk urusan dunia maupun agamanya,</p>
<p>Di tempat lain didirikan pula lembaga yang bekerja untuk memerangi tradisi yang rusak dan kebodohan yang merajalela, terutama di tempat-tempat yang jauh dari lingkungan ilmiah Pada saat yang bersamaan didirikan pula lembaga untuk menghidupkan sunah dan kewajiban agama yang secara praktek telah banyak dilupakan orang, meskipun secara teori masih banyak diketahui seperti mengumpulkan zakat biji-bijian yang disimpan di tempat khusus lalu membagikannya-dengan sepengetahuan jamaah-kepada orang-orang yang berhak menerimanya (tanpa tujuan mempengaruhi), sebagaimana yang dilakukan Ikhwan di wilayah Barambal beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Di Kairo didirikan pula koran mingguan Ikhwanul Muslimin yang disusul kemudian dengan berdirinya percetakan milik Ikhwan. Semua itu dapat terwujud dalam kurun waktu kurang dari setahun.</p>
<p>Jamaah Ikhwan juga memberi perlindungan kepada kaum fakir miskin dari pengaruh misionaris akhir-akhir ini. Maka rumah-rumah Ikhwan pun menjadi tempat penampungan mereka, lembaga-lembaga latihan Ikhwan memberi bimbingan kepada mereka, dan sekolah-sekolah Ikhwan pun siap mendidik mereka. Para pengurus lembaga memberi peringatan kepada masyarakat akan bahayanya para misionaris yang sesat itu. yang selalu mengelabui mereka dengan aqidahnya dan sibuk menyesatkan orang-orang yang lemah dan fakir miskin.</p>
<p>Itulah beberapa dampak kongkret aktivitas Ikhwanul Muslimin. Saya tidak perlu lagi menyebutkan berbagai majelis ta’lim ceramah, diskusi, serta kunjungan dan wisata, yang semua ini biasanya dikenal dengan istilah dakwah bil lisan. Kami pernah mengatakan bahwa kami telah lelah berbicara dan telah bosan berpidato. Kini tinggallah kami berbuat sesuatu yang nyata,</p>
<p>Engkau barangkali terkejut ketika mengetahui bahwa Ikhwanul Muslimin, dalam melakukan kerja raksasa ini, tidak meminta bantuan dana dari pemerintah maupun pihak lain, kecuali 500 junaih (mata uang Mesir) yang pernah disumbangkan oleh Koperasi Terusan Suez untuk membantu pembangunan masjid dan sekolah di Ismailiyah.</p>
<p>Banyak orang menduga-sebagian dugaan adalah perbuatan dosa-dan berkata tentang Ikhwan dengan sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu. Namun, semua itu tidak menjadi masalah bagi kami dan cukuplah bagi kami bahwa Allah swt. mengetahuinya. itu semua karena limpahan taufiq dan hidayah-Nya dan bahwa harta itu adalah harta khusus anggota Ikhwan, yang diberikan dengan hati yang tulus ikhlas. Maka diberkatilah harta itu dan datanglah buahnya setiap saat dengan seizin Tuhannya, Cukuplah kami katakan kepada setiap orang dan semua pihak di mana pun ia berada dengan terus-terang bahwa Ikhwanul Muslimin tidak membiayai proyek-proyeknya selain dengan iuran para anggotanya. Dengan begitulah mereka eksis dan semakin percaya diri. Sementara para anggota mendapatkan kenikmatan tersendiri dengan pengorbanan di jalan Allah itu.</p>
<p>Barangkali Anda juga heran ketika mengetahui bahwa kontribusi finansial kepada Ikhwanul Muslimin bersifat suka rela, bukan paksaan, sehingga barangsiapa tidak mampu memberikannya kepada jamaah tidak dikurangi sedikit pun hak-hak ukhuwahnya. Meskipun hal ini jelas-jelas tertuang dalam teks Anggaran Dasar jamaah, namun para anggota Ikhwan senantiasa berlomba-lomba untuk berqurban di jalan Allah jika diseru untuk itu. Dengarlah sebuah kisah di tengah pembangunan masjid di wilayah islamiyah Ketika salah satu ketua kelompok jamaah memberikan himbauannya kepada anggota untuk berinfaq, berdirilah salah seorang dari mereka yang profesinya adalah buruh pabrik. Ia berjanji akan menyumbang 1.5 junaih (mata uang Mesir) tiga hari kemudian. Akan tetapi, ia hanyalah buruh pabrik yang miskin, dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu? Sebenarnya ia ingin meminjam dahulu, namun khawatir pembayarannya tertunda. Ia ingin mengadakan uang dengan segera tetapi tidak dengan cara demikian. Ia pun berpikir keras, namun tidak kunjung mendapatkan jalan untuk itu. Yang bisa dilakukan kini hanyalah menjual sepeda satu-satunya yang biasa dipakai untuk berangkat ke tempat kerja vang berjarak sekitar 6 kilometer, Benarlah, akhirnya diwujudkannya jalan pikiran itu. Tepat pada hari yang dijanjikan ia menyerahkan uangnya. Dengan demikian ia menghimpun dua kebajikan: menepati janji dan bersedekah.</p>
<p>Di kemudian hati sang ketua melihat bahwa al-akh yang profesinya buruh tadi sering terlambat datang di majelis ta’lim Isya’ Ia tidak mengetahui alasannya. dan jika bertanya pun tidak dijawabnya. Akhirnya ia diberi tahu oleh salah seorang kawan dekatnya yang mengetahui duduk persoalan. Ia memberitahu ketua bahwa al-akh tadi menjual sepedanya untuk melunasi janji infaq pembangunan masjid. oleh karenanya, setiap pagi ia berjalan kaki dan terlambat mengikuti pengajian. Mendengar ini terkejutlah sang ketua dan para ikhwan yang lain. Mereka kemudian membuat keputusan untuk mengganti sumbangan infaqnya. dan mengganti sepeda lamanya dengan sepeda yang baru agar ia senantiasa mengenang balasan kesetiaannya pada janji.</p>
<p>Dengan jiwa semacam inilah, jiwa yang memiliki ikatan kuat dengan para assabiqunal awwalun (para pendahulu) dari kalangan tokoh-tokoh Islam yang menjadi mercusuar umat, fikrah Ikhwanul Muslimin bangkit dan berkembang. Sukseslah berbagai proyek kerja dakwah yang diembannya. Mereka adalah kaum fakir miskin yang dermawan, mereka sedikit hartanya tetapi murah hati. Dengan kelangkaan harta benda yang dimiliki, mereka berderma dengan sesuatu yang banyak, diberkatilah harta ini oleh Allah, melimpahruahlah kebajikan yang diperoleh akhirnya.</p>
<p>Dengan demikian, mudah-mudahan saya telah menyingkap beberapa hal yang masih samar di mata sebagian orang yang menuduh bahwa di balik keberhasilan dakwah Ikhwan ada persekongkolan dengan berbagai pihak dan ada sikap tunduk hadap kepentingan-kepentingan pribadi. Namun-alhamdulillah- Ikhwan bersih dari itu semua.</p>
<p>Itulah beberapa baris tulisan yang berisi sebagian kisah jihad Ikhwanul Muslimin secara operasional, yang kami paparkan kepada orang-orang yang ingin menimbang bobot Ikhwan dengan standar yang biasa dipakai oleh berbagai yayasan dan proyek sosial pada umumnya. Ikhwan berusaha menjadikan lembaran-lembaran tulisan ini sebuah buku yang berisi data berbagai kegiatan sosial yang ditunaikan dengan hati yang tulus karena Allah swt. Dengan demikian, mudah-mudahan mereka berpikir kembali untuk memberikan dukungan kepada jamaah itu, yang senantiasa menapaki jalannya menuju tujuan yang diimpikan, yang hanya bersandar dan berharap kepada Tuhannya. masih ada lembaran-lembaran lain yang akan kami sampaikan, insya Allah.</p>
<p>Mempersiapkan Generasi</p>
<p>(Dimuat oleh harian Ikhwanul Muslimin, Edisi XVII, 20 Jumadil Ula 1353 H.)</p>
<p>Pada tulisan yang lalu Anda melihat bahwa Jamaah Ikhwanul Muslimin adalah pelopor dakwah yang produktif di bidang proyek-proyek sosialnya, seperti: pembangunan masjid, sekolah, yayasan, majelis ta’lim, seminar-seminar, ceramah umum, dan forum diskusi. Pendeknya, proyek Ikhwan memadukan antara ucapan dan tindakan.</p>
<p>Namun demikian, masyarakat mujahid, yang menghadapi tantangan persoalan kontemporer dan berada di titik peralihan peradaban, yang ingin membangun masa depannya di atas pondasi yang kokoh, yang berusaha menjamin generasi mudanya dengan kesejahteraan dan kedamaian hidup, yang tengah menuntut kembalinya kebenaran yang terampas dan harga diri yang tercabik, membutuhkan bangunan yang lain dari sekadar bangunan sosial ini.</p>
<p>Ia sangat membutuhkan tegaknya bangunan jiwa, bangunan akhlaq, dan bangunan pribadi generasi muda dengan mentalitas kepeloporan yang benar untuk dapat mengatasi berbagai tantangan hidup di masa depan.</p>
<p>Generasi muda adalah rahasia kehidupan umat dan sumber mata air kebangkitannya. Sesungguhnya sejarah umat adalah sejarah para tokoh yang dilahirkannya, yang memiliki mentalitas kuat dan hasrat nan membara Kuat lemahnya umat sesungguhnya diukur dari sejauhmana kemampuan ‘rahim’ umat itu untuk melahirkan tokoh-tokoh yang memenuhi syarat sebagai pelopor. Saya berkeyakinan -dan sejarah membuktikannya- bahwa satu orang pelopor (saja) dapat membangun umat jika ia memiliki karakter kepeloporan yang benar. Sebaliknya, ia mampu menghancurkan umat jika keadaan menuntut ia harus melakukannya.</p>
<p>Sesungguhnya kehidupan umat itu bergerak melalui berbagai tahapan, persis sebagaimana tahapan-tahapan kehidupan yang dilalui oleh seseorang. Ada seseorang yang tumbuh berkembang dalam asuhan orang tua yang bergelimang kemewahan, sehingga ia tidak pernah disibukkan oleh berbagai persoalan hidup. Sementara yang lain tumbuh dalam situasi yang sulit; kedua orang tuanya miskin dan lemah, sehingga ia tidak memiliki harapan akan munculnya benderang fajar kehidupan di masa depan. Ia banyak berhadapan dengan tuntutan hidup yang pelik yang datang dari segala penjuru. Mahasuci Allah yang telah membagi-bagi nasib dan menciptakan ragam nuansa hidup, kepada umat manusia.</p>
<p>Boleh jadi ada situasi di mana kita hidup di tengah generasi yang tumbuh di tengah berbagai bangsa yang saling bertikai dan menimpakan bencana pada sesamanya, dimana muncul slogan, “Siapa yang kuat, dialah yang menang”.</p>
<p>Ada pula situasi di mana kita berhadapan dengan masa peralihan peradaban yang dahsyat, di mana berbagai gelombang pemikiran dan berbagai arus kepentingan menjungkirbalikkan umat manusia, baik sebagai pribadi, masyarakat, organisasi-organisasi pemerintahan, dan lainnya. Akal pikiran menjadi kacau balau. jiwa pun terguncang meradang, dan orang yang beraqidah bersih pun kebingungan berhadapan dengan gelombang dahsyat peradabannya. Ia meraba-raba untuk mencari jalan keluar, sementara rambu-rambu kebenaran timbul tenggelam dan cahayanya pun meredup, bahkan nyaris tak bersinar. Sementara itu di setiap ujung jalan berdiri para propagandis kesesatan yang menyeru manusia menuju kegelapan malam yang pekat. Keadaan yang demikian itu membuat kami tidak menemukan lagi kata-kata untuk menggambarkannya secara lebih tepat selain dari “kacau”.</p>
<p>Demikian pula, ada saatnya di mana kita harus menghadapi semua ini dan berjuang untuk menyelamatkan umat dari mara bahaya yang mengepung dari seluruh penjuru.</p>
<p>Sesungguhnya umat yang dilingkupi oleh situasi sebagaimana yang ada sekarang ini, yang hendak bangkit untuk suatu kepentingan sebagaimana kepentingan kami, yang menghadapi berbagai tantangan sebagaimana yang kami hadapi, tidak patut bersantai ria dan berkhayal belaka. Sebaliknya, ia harus menyiapkan dirinya untuk memikul beban perjuangan berat di perjalanan nan panjang, untuk menghadapi pertempuran antara hak dan batil, antara maslahat dan mafsadat, antara pemilik kebenaran dan perampasnya, antara peniti jalan yang lurus dan pengacaunya, antara para dai yang tulus di satu sisi dari dai palsu di sisi lainnya. Ia harus memahami bahwa kata “perjuangan” itu identik dengan kata “lelah” dan “sulit”. Sebaliknya, kata “samai” tidak pernah sekalipun berdampingan dengan kata “jihad”.</p>
<p>Bagi umat, tidak ada bekal yang dapat digunakan untuk menghadapi situasi yang buas ini kecuali hati yang sarat iman, hasrat yang kuat dan kemauan yang keras, sikap murah hati dan kesediaan berkorban, serta kesiapan terjun ke medan juang pada waktunya. Tanpa ini semua, umat akan hancur, perjuangan senantiasa menuai kegagalan, dan nasib tak menentu bakal menimpa generasinya.</p>
<p>Meskipun situasi yang kami hadapi demikian pelik dan berat, sebagaimana Anda ketahui, namun jiwa kami tetaplah jiwa yang lembut, sensitif, dan tenang. Demikian lembut dan sensitifnya, sehingga jika kedua pipi ini diterpa hembusan angin sepoi, cukup membuatnya terluka, dan jika ujung jari ini disentuh ujung kain sutera, cukup menjadikannya berdarah. Sedangkan para pemuda dan pemudi kami, sebagai harapan masa depan dan gantungan cita-cita, tetaplah sebagai generasi; yang nasib baik mereka merupakan kebanggaan dan harga diri yang harus diperjuangkan. Meskipun untuk itu kami harus mengorbankan kemerdekaan, kemuliaan, atau membayar dengan terampasnya. hak-hak umat.</p>
<p>Kalian menyaksikan ironi pada diri para pemuda yang lisannya fasih mengucapkan kata-kata segar dan di guratan wajahnya terbesit air muka yang jernih dan berkilau, mengiba di depan pintu berbagai kantor untuk melamar pekerjaan. Kalian menyaksikan mereka itu berjuang mati-matian mencari koneksi kepada berbagai pihak untuk melicinkan jalan. Wahai sahabatku, jika mereka telah memperoleh pekerjaan yang mereka impikan itu, apakah Anda berpikir bahwa suatu hati mereka akan siap meninggalkannya. demi harga diri atau kehormatannya, meskipun mereka sesungguhnya juga mengalami penderitaan dan penindasan dalam bekerja?</p>
<p>Mentalitas kita -hari-hari ini- sungguh membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlaq yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Cita-cita besar yang menggelayuti akal pikiran para dai pembaharu di satu sisi, dan problematika yang demikian berat di sisi yang lain, menuntut kita untuk segera memperbaharui mentalitas dan membangun jiwa kembali dengan bentuk bangunan yang bukan sekadar sebagaimana yang pernah kita miliki; yang telah lapuk dimakan usia dan telah lenyap ditelan berbagai tragedi. Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.</p>
<p>Jika kalian mengetahui semua ini dan senantiasa sepakat dalam memahami bahwa standar ini adalah standar yang lebih pas dan lebih detail untuk menimbang kadar kebangkitan umat maka ketahuilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat untuk mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang luhur. Pembinaan –untuk membangun jiwa yang dinamis– itu ditegakkan dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada tujuan.</p>
<p>Setelah menyimak penjelasan ini, barangkali kalian bertanya, ‘Apa saja sarana yang dipergunakan Ikhwanul Muslimin untuk memperbaharui mentalitas dan meluruskan akhlaq mereka? Apakah Ikhwan pernah mencoba menggunakan sarana tersebut? Dan sejauhmana keberhasilan percobaan itu?”</p>
<p>Kami akan membahasnya pada uraian-uraian berikut ini, insya Allah.</p>
<p>Menentukan Sarana Dan Menyandarkan Pada Prinsip</p>
<p>(Dimuat oleh mingguan Ikhwanul Muslimin, Edisi XVHI, 27 Jumadil Ula 1353 H.)</p>
<p>Engkau telah mengetahui wahai pembaca yang budiman, bahwa Ikhwanul Muslimin mengemban misi utama pembinaan jiwa, pembaharuan mental, pengokohan akhlaq, dan penumbuhan sikap kesatria yang lurus. Inilah pondasi yang di atasnya bakal ditegakkan kebangkitan umat.</p>
<p>Mereka mencari tahu apa saja sarana untuk itu dan bagaimana cara yang harus digunakan untuk sampai ke sana. Mereka tidak mendapatkan kata jawaban yang lebih tepat daripada kata “agama”.</p>
<p>Agama itulah yang akan menghidupkan nurani, membangkitkan perasaan, mengetuk hati, menjadi pengawas dan penjaga jiwa yang tak pernah lalai, menjadi saksi yang tak pernah pura-pura, tak pernah menyesatkan, dan tak pernah melupakan pemiliknya di waktu pagi maupun perang, di tengah keramaian maupun ketika sendirian. Dia pula yang memberi ilham yang mendorong seseorang berbuat kebajikan, yang menghardiknya dari perbuatan dosa, yang menjauhkannya dari jalan yang menyesatkan, dan yang memberi rambu-rambu untuk memahami jalan kebajikan dan jalan kejahatan.</p>
<p>“Apakah mereka mengira bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (Az-Zukhruf: 80)</p>
<p>Ia pula yang menghimpun berbagai nilai keutamaan dan kemuliaan yang menyediakan untuk setiap keutamaan pahalanya dan setiap kemuliaan balasannya, dan dia pulalah yang menyerukan aktivitas pembersihan hati serta penyucian ruhani.</p>
<p>“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10)</p>
<p>Agama pula yang menyeru manusia kepada pengorbanan di jalan kebenaran dan pembinaan akhlaq. Yang menjamin siapa saja yang melakukannya dengan pahala yang sebesar-besarnya, yang memperhitungkan kebajikan betapa pun kecilnya, dan memperhitungkan kejahatan betapa pun remehnya. Ia yang mengganti kehancuran dalam membela kebenaran dengan keabadian dan menghidupkan kembali kematian di medan jihad.</p>
<p>“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka,” (Ali Imran: 169-170)</p>
<p>“Kami akan memasang timbangan yang tepat Pada hari Kiamat maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika amalan itu hanya sebesar biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya, Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan,” (Al-Anbiya’: 47)</p>
<p>Ia pula yang sanggup menebus segala kemegahan duniawi ini dari setiap orang dengan harga berupa kebahagiaan yang memenuhi jiwanya dan menenteramkan hatinya. Ialah anugerah rahmat, kasih sayang, dan ridha Allah swt.</p>
<p>“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (An-Nahl: 96)</p>
<p>Ia menghimpun semua keutamaan tersebut, lalu mengiringi fitrah hati, dan jiwa. setelah itu meleburlah masing-masing keutamaan kepada yang lainnya, menyusup ke sela-sela molekul ruhani, memandu akal pikiran, dan akhirnya bersatu-padu tanpa berpisah lagi. Perpaduan inilah yang membangkitkan rasa suka cita para petani di ladangnya dan para buruh di tempat kerjanya. Ia menjadikan si kecil mengerti dan menikmati ilmu pengetahuan di meja perpustakaannya; ia menjadikan si cendekia merasa lezat dengan studi dan telaahnya dan ia pula yang menerbangkan benak si filosof dengan perenungannya. Apakah Anda melihat sesuatu yang dapat menguasai jiwa manusia lebih kuat daripada agama? Apakah Anda membaca dalam sejarah umat manusia suatu faktor yang paling dahsyat pengaruhnya pada kehidupan masyarakat daripada agama? Dan apakah Anda menyaksikan suatu dampak dari kehidupan para filosof dan cendekiawan sehebat apa yang dimiliki para nabi dan rasul?</p>
<p>Sekali-kali tidak! Karena agama adalah seberkas cahaya Allah yang menembus jiwa, yang menerangi kegelapannya, dan mencerahkan cakrawalanya. Jika ia telah tertanam kuat di dalam jiwa, semuanya bakal disiapkan untuk menjadi tebusannya.</p>
<p>“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk Kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah: 24)</p>
<p>Dia pulalah yang melambung tinggi bersama kesakralan dan keagungannya melampaui segala sesuatu; ia berada di atas segenap makhluk dan jauh dari arus taklid buta. Dengan begitulah ia menyatukan hati, menghimpun kata dan memutus setiap bentuk perselisihan dan pertikaian dari akar-akarnya, sehingga terciptalah kekuatan dan ketegaran untuk membimbing kalbu menuju haribaan Allah swt, semata seiring dengan itu, ia memalingkan jiwa dari pengaruh daya tarik duniawi dan kenikmatan syahwati -dengan hasrat dan amalnya- untuk menuju martabat para mukhlisin yang setia, yang segenap aktivitasnya hanya diperuntukkan bagi Allah swt.</p>
<p>“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (Asy-Syura: 13)</p>
<p>Dia pula yang mengantarkan kesetiaan hati menuju syahadah (mati syahid) dan menjadikannya sebagai kewajiban yang akan dimintai tanggung jawabnya di hadapan Allah. Dia menjadikan syahadah itu sebagai kendaraan yang membawanya ke naungan ilahi, serta menjadikannya bukti kepahlawanan yang total dan kejujuran yang sejati.</p>
<p>“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya.” (Al-Ahzab: 23-24)</p>
<p>Dia tempat terhimpunnya pemikiran yang sehat dan tempat berseminya cita-cita yang luhur. Ia adalah simbol harapan bagi pribadi, masyarakat, bangsa, dan dunia seluruhnya.</p>
<p>“Kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya.” (Al-Munafiqun: <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebagian orang berpikir untuk memperbarui masyarakat dengan perangkat ilmu pengetahuan, sebagian lainnya berpendapat dengan perangkat seni dan tradisi, dan sebagian lainnya menganggap cukup dengan pembinaan olah raga. Semua itu bisa jadi benar dan bisa jadi salah, dalam konteks makna yang terbatas. Saat ini bukanlah saatnya untuk memberi tanggapan, kritik, dan penilaian atasnya. Akan tetapi satu hal yang ingin saya katakan, Ikhwanul Muslimin melihat bahwa sarana yang paling tepat untuk memperbaiki kepribadian umat adalah agama Di samping itu ia melihat pula bahwa agama Islam telah menghimpun kebaikan seluruh perangkat di atas.</p>
<p>Sedangkan menyangkut perangkat operasional pertama untuk menyucikan jiwa dan memperbarui ruhani, ia adalah “Pembatasan sarana dan pemilihan pondasi”. Di atas landasan inilah aqidah Ikhwanul Muslimin dibangun, dengan merujuk kepada Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya, tanpa keluar darinya sedikit pun. Dan Ikhwan mewajibkan dirinya untuk menjaga, mewujudkan, dan loyal kepadanya. Saya berkeyakinan bahwa inilah sarana operasional untuk pembinaan jiwa dan pelurusan akhlaq. Dalam kaitan ini, saya mengingatkan kepada setiap akh muslim bahwa adalah kewajibannya untuk menjaga aqidah dan bekerja untuk mewujudkan kandungannya.</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah: 119)</p>
<p>Kedudukan Shalat</p>
<p>(Dimuat oleh mingguan Ikhwanul Muslimin, Edisi XXI, 18 Jumadits Tsaniyah 1353 H.)</p>
<p>Engkau telah mengetahui bahwa Ikhwanul Muslimin mengenal Islam sebagai sarana paling mulia untuk membersihkan jiwa, memperbarui ruhani, dan menyucikan akhlaq. Dari cahayanyalah mereka mengambil prinsip untuk membangun aqidah. Anda pun sangat memahami bahwa kedudukan shalat dalam Islam bagaikan kedudukan kepala pada jasad. Shalat adalah pilar Islam yang kekal abadi. Ia juga penyejuk jiwa bagi yang menegakkannya, penenang hati, dan penghubung antara hamba dengan Tuhannya. Ia adalah tangga yang mengantarkan ruh orang-orang yang hatinya sarat dengan mahabbah menuju ketinggian yang tiada batasnya. Dialah taman suci yang menghimpun berbagai unsur kebahagiaan, baik di alam ghaib maupun di alam nyata. Dialah kilatan cahaya bagi orang yang ingin menerangi jiwanya, dan dialah kelezatan bagi orang yang ingin menikmatinya. Apakah Anda menyaksikan orang yang begitu asyik dalam kekhusyukannya berhubungan dengan Tuhan, sebagaimana asyiknya orang yang tengah ruku’ dan sujud di tengah malam gulita dengan gelisah karena khawatir akan nasibnya di akhirat, dengan berharap-harap cemas akan rahmat-Nya? Di saat mata semua orang telah terpejam dan pikiran pun telah hanyut bersama tidur pulasnya, sebagian orang justru asyik berduaan dengan kekasihnya, sehingga sang arif bijak bestari pun bergumam:</p>
<p>Begadangnya mata ini Rabbi<br />
jika bukan untuk wajah-Mu<br />
adalah sia-sia<br />
Dan isak tangisnya<br />
jika bukan lantaran kehilangan diri-Mu ilahi<br />
adalah kebatilan belaka</p>
<p>Wahai saudaraku, saat Anda berada dalam situasi demikian, itu lebih berarti bagi hati dan jiwamu daripada seribu kata nasihat, seribu paragraf kisah, dan sejuta forum ceramah. Cobalah, Anda pasti merasakannya. Al-Qur’an mengisyaratkan hal ini dalam ayatnya,</p>
<p>“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah),” (Adz-Dzariyat: 16-18)</p>
<p>Sedangkan pahala mereka pun tersembunyi.</p>
<p>“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (AS-Sajadah: 17)</p>
<p>Tidakkah amal mereka juga tersembunyi? Bukankah ‘bersembunyi’ di depan khalayak juga merupakan sesuatu yang mungkin terjadi? Dan mungkinkah suatu kenikmatan dirasakan oleh mereka yang tengah dimabuk cinta selain di saat bersembunyi juga? Adakah balasan kebajikan kecuali kebajikan juga? Banyak yang menceritakan bahwa Abul Qasim Al-Junaid mimpi meninggal dunia. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang Allah lakukan kepadamu?” Ia menjawab, “Sia-sialah segala bentuk amal, kata-kata, dan ilmu pengetahuan. Tiada yang memberi manfaat kepadaku kecuali beberapa rakaat yang saya tunaikan di tengah malam.”</p>
<p>Jangan heran, wahai pembaca yang budiman. Memang tiada yang memberi manfaat lebih baik bagi hati, selain kesunyian yang merasuki wilayah pemikiran. Tiada yang menyucikan jiwa lebih utama, selain beberapa rakaat yang ditunaikan secara khusyuk yang menghapus dosa, membasuh noda dan aib, menanamkan cahaya iman dalam kalbu, dan menenteramkan dada dengan sejuknya embun keyakinan.</p>
<p>Kaum muslimin di masa kini bermacam-macam dalam menyikapi shalat. Ada di antara mereka yang menyia-nyiakan dan meninggalkannya. Jika Anda mengingatkan sesuatu tentangnya atau mengajak mereka untuk melakukannya, mereka berpaling dengan congkak dan menganggapnya enteng, padahal di sisi Allah ia adalah sesuatu yang besar. Saya tidak ingin mengatakan bahwa sebagian mereka melarang dan merendahkan orang yang menunaikan shalat sembari mengatakan bahwa pekerjaan itu sudah ketinggalan zaman dan kuno. Engkau pasti mendengar dari mereka dan orang-orang semacamnya kata-kata yang menyakitkan hati dan aneh, seolah-olah mereka tidak mendengar ayat Allah,</p>
<p>“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Al-Ma’un: 4-5)</p>
<p>Anda pasti lebih heran ketika mengetahui bahwa sebagian orang yang bekerja di lahan dakwah dan duduk di lembaga pengadilan Islam ada yang mengabaikan urusan shalat dan menganggapnya remeh. Seakan-akan Nabi saw. belum pernah berkata bahwa shalat itu adalah tiang agama dari ia merupakan kewajiban yang harus ditegakkan oleh kaum muslimin. Mereka seolah-olah belum pernah mendengar sabda Nabi saw.,</p>
<p>“Tiada jarak antara seorang hamba dengan kekufuran kecuali meninggalkan shalat. Apabila meninggalkannya maka ia syiri Ibnu Majah dan Suyuthi menyebutnya sebagai shahih dalam mi’ush Shaghir)</p>
<p>Kami tidak merasa perlu berusaha meyakinkan mereka dengan penjelasan yang jelas, dan rinci. Cukuplah kami memohon kepada Allah agar memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepadanya. Setelah itu kita berhadapan dengan dua kelompok yang lain dari kalangan kaum muslimin.</p>
<p>Adapun kalangan mayoritas, mereka menunaikan shalat secara refleks dan mekanis, sekadar menerima warisan dari para pendahulu mereka. Mereka melakukan kebiasaan itu sepanjang waktu tanpa mengetahui rahasia di baliknya dan tanpa merasakan dampaknya. Cukuplah bagi mereka dapat mengucapkan bacaan-bacaan shalat sembari melakukan gerakan-gerakannya, sesudah itu pergilah ia dengan perasaan puas bahwa mereka telah menunaikan kewajiban menegakkan shalat. Terhindarlah mereka dari azab dan berhaklah atas pahala.</p>
<p>Ini adalah khayalan yang tidak akan terwujud sama sekali, karena ucapan dan tindakan shalat itu hanyalah kerangka fisik yang jiwanya adalah kepahaman, pilarnya adalah kekhusyukan, dan buahnya adalah pengaruh riil. Dalam suatu riwayat hadits disebutkan, “Shalat itu ketenangan, ketawadhu’an, dan rintihan…” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)</p>
<p>Oleh karenanya, Anda menyaksikan kebanyakan orang tidak dapat mengambil manfaat dari shalat mereka dan tidak dapat mencegah dirinya dari kemunkaran. Padahal, seandainya saja shalat itu disempurnakan, ia akan membuahkan kesucian jiwa dan kebersihan hati, serta menjauhkan pelakunya dari dosa dan kemunkaran.</p>
<p>Sedangkan kelompok kedua, jumlahnya sedikit, tetapi mereka memahami rahasia shalat dengan baik. Ia sungguh-Sungguh dalam menunaikan dan gigih dalam usaha menyempurnakannya. Ia shalat dengan penuh rasa khusyuk Penuh renungan, ketenangan, dan keluar dari dunia shalatnya dengan merasakan nikmat ibadah dan ketaatan, serta limpahan cahaya Allah yang tiada tara. Hal itu tampak pada mereka yang jiwanya telah sampai kepada ma’rifat kepada-Nya, Dalam sebuah hadits dikatakan,</p>
<p>“Barangsiapa mengerjakan shalat pada waktunya dengan menyempurnakan wudhunya, menyempurnakan ruku’ sujud dan khusyuknya, ia (shalatnya) melesat ke angkasa dengan warna putih Cemerlang sambil berkata, ‘Semoga Allah menjagamu sebagaimana engkau menjagaku.’ Dan barangsiapa mengerjakan shalat tidak pada waktunya serta tidak menyempurnakan Wudhunya, tidak menyempurnakan ruku’, sujud, dan khusyuknya, ia melesat ke angkasa dalam warna hitam pekat dan berkata, ‘Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau menyia-nyiakanku.’ Sehingga tatkala sampai di tempat yang Allah tentukan, ia dilipat sebagaimana kain lalu dipukulkan ke wajahnya (orang yang shalat).” (HR. Thabrani dalam AI-Ausath dari Anas HR. Tayalisi dan Baihaqi dalam Asy-Syu’ab dari Ubadah bin Shamit)</p>
<p>Oleh karenanya, derajat manusia itu beragam dan tingkat pahalanya pun berbeda-beda ‘ meskipun sama-sama menunaikan shalat yang bentuk, gerakan dan ucapannya satu. oleh karenanya, para salafush ’shalih juga sangat bersungguh-sungguh menghadirkan hati dalam shalat mereka dan menyempurnakan khusyuk dalam ibadahnya. Demikian itu pula sifat yang dinisbatkan kepada orang-orang beriman,</p>
<p>“Adalah orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (Al-Mukminun: 2)</p>
<p>Ikhwanul Muslimin mengetahui hal ini dan senantiasa berusaha berjalan bersamanya. salah satu fenomena operasional paling menonjol di kalangan mereka adalah bagaimana mereka memperbaiki shalatnya. Mereka beranggapan bahwa dengan itulah mereka melewati jalan yang paling pintas menuju pembaharuan jiwa dan penyucian ruhani.</p>
<p>“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ” (Al-Baqarah: 153)</p>
<p>Wahai saudaraku muslim, Anda paham sekarang, dan jadilah teladan ihsan dalam shalatmu, serta yakinlah bahwa langkah pertama sebelum segala aktivitas kita adalah memperbaiki shalat.</p>
<p>Zakat</p>
<p>(Dimuat oleh mingguan Ikhwanul Muslimin, Edisi XXII, 25 jumadits Tsaniyah 1353 H.)</p>
<p>Shalat dan zakat dijadikan oleh Allah swt. sebagai ‘pagar betis’ bagi agama dan syariat. Allah swt. membandingkan antara keduanya di banyak tempat dalam Al-Qur’an Al-Karim sebagai isyarat betapa agung kedudukan keduanya. Shalat adalah media penghubung antara Anda dengan Allah, di samping juga antara Anda dengan makhluk yang lain. Bukankah di alam wujud ini nada sesuatu selain Khaliq dan makhluk? Jika Anda telah berhasil menjalin hubungan baik dengan keduanya, pada hakikatnya Anda telah mendapatkan kebaikan yang paripurna dan puncak kebahagiaan. Bila shalat merupakan penyuci jiwa dan pembersih ruhani, maka zakat adalah penyuci harta dan pembersih penghasilan.</p>
<p>“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 103)</p>
<p>Allah swt. juga menjadikan shalat dan zakat sebagai fenomena keimanan serta bukti sehatnya aqidah. Al-Qur’an mengisyaratkain hal ini dalam ayat-Nya,</p>
<p>“Jika mereka bertobat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (At-Taubah:11)</p>
<p>Ayat ini memberikan pemahaman bahwa barangsiapa cacat dalam menjalankan kewajiban shalat dan zakat, ia bukan saudara seagama, Boleh jadi inilah yang dipahami oleh Abu Bakar r.a. ketika memerangi orang yang tidak menunaikan zakat dan disetujui juga oleh seluruh sahabat Rasulullah saw. Orang-orang yang tidak mau menyerahkan zakat dianggapnya murtad.</p>
<p>Dalam riwayat Sittah, dari Abu Hurairah ra. berkata, “Tatkala Nabi saw. wafat, kafirlah orang yang kafir dari masyarakat Arab. Berkatalah Umar kepada Abu Bakar ra “Bagaimana Anda memerangi orang, padahal Rasulullah saw. pernah bersabda, “Aku diutus untuk memerangi manusia sehingga mereka mengatakan ‘tidak ada Tuhan kecuali Allah.’ Barangsiapa mengatakannya. maka ia terlindung dariku harta dan Jiwanya kecuali dengan haknya. Dan perhitungannya -setelah itu- ada di sisi Allah swt.” Berkata Abu Bakar ra. “Demi Allah sungguh aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Shalat adalah hak Allah sedangkan zakat adalah hak harta. Demi Allah, jika mereka menolak untuk memberikan kepadaku sebuah tali kuda yang dahulu pernah diberikannya kepada Rasulullah saw, niscaya mereka akan aku perangi karena penolakannya, ” Umar ra. berkata, “Demi Allah, ketika saya melihat bahwa Allah swt. telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memutuskan perang, saya memahami bahwa ia adalah benar belaka.’”</p>
<p>Cermatilah bagaimana Abu Hurairah ra. menyebut orang yang menolak untuk memberikan zakat dengan kata-kata “kafirlah orang yang kafir”, dan bagaimana pula Abu Bakar melihat bahwa penolakan zakat hakikatnya sama dengan penghancuran agama, sehingga pelakunya harus diperangi meskipun ia telah bersyahadat , dan bagaimana pula Umar ra. mengakui pendapat Abu Bakar sebagai pendapat yang benar. Allah dan Rasul-Nya telah memberi ancaman kepada orang yang menolak untuk memberikan zakatnya dengan ancaman yang keras. Allah swt. berfirman,</p>
<p>“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak membelanjakannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (At-Taubah: 34-35)</p>
<p>Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa dianugerahi Allah harta lalu ia tidak menunaikan kewajiban zakatnya, pada hari kiamat harta itu akan dijadikan ular berbisa. ia lalu melingkari pemilik harta tadi dan mengangkat mulutnya sembari berkata, Akulah harta dan simpananmu.”‘</p>
<p>Pada hadits lain disebutkan,</p>
<p>“Celakalah orang-orang kaya, karena sebagian dari orang-orang fakir pada hari Kiamat berkata, ‘Wahai Tuhan kami, mereka menzhalimi hak-hak kami yang telah Engkau jadikan untuk kami.’ Allah swt. menjawab, ‘Demi keagungan dan kehormatan-Ku, sungguh Kudekatkan kalian dan Kujauhkan mereka.”‘</p>
<p>Yang demikian bisa terjadi pada hari Kiamat, karena zakat memang merupakan sistem yang disyariatkan, pilar dari aktivitas yang bermanfaat, dan alat koreksi bagi pribadi yang bakhil. Ia melatih sikap dermawan, mengokohkan rasa kasih sayang, menyeru hati untuk berhimpun, memusnahkan rasa dengki, menyerukan saling bahu dan saling bergantung dalam kebaikan, menjauhkan akar-akar keburukan dan kerusakan, serta memadamkan api kecemburuan. Setiap orang akan melindungi orang yang berjasa padanya. Karenanya, jika Anda dapat berbuat baik -seberapa pun- maka berbuatlah.</p>
<p>Pengelolaan zakat adalah salah satu tugas penguasa, Ia harus bekerja untuk mengumpulkan, mendata, dan membagikannya kepada para mustahiq (orang yang berhak) yang telah Allah swt. tetapkan. Kalau saja pemerintah-pemerintah Islam memiliki kepedulian terhadap urusan zakat ini, niscaya mereka dapat memiliki kekayaan yang baik dan dapat menggantikan berbagai pungutan pajak yang zhalim. Dengan demikian, zakat juga berarti pemenuhan kewajiban yang telah hilang dan salah satu rukun Islam yang selama ini disia-siakan. Adapun jika pemerintah-pemerintah Islam melalaikan pengurusan zakat ini; baik pengumpulan maupun distribusinya, maka setiap pribadi harus menghidupkan syiar ini dan menegakkan kembali kewajiban ini serta mengeluarkan kembali hak Allah untuk para hambanya. Barangsiapa menyia-nyiakannya, maka ia berdosa dan balasan yang pedih menantinya dari sisi Tuhannya.</p>
<p>Kalian menyaksikan banyak kaum muslimin melalaikan hak Allah ini pada harta mereka; mereka tidak mengeluarkan bagian kaum fakir miskin dari penghasilannya, yang dengan itu sebenarnya- mereka memutus hubungan, memperbanyak tindakan maksiat, mengotori jiwa, dan menumbuhsuburkan sikap kecemburuan sosial dan kedengkian.</p>
<p>Ikhwanul Muslimin menyaksikan itu semua, karenanya mereka ingin menjadi pelopor utama yang menyuguhkan teladan operasional dalam menghidupkan rukun (zakat) ini. Mereka memulai dari diri mereka sendiri; mereka keluarkan zakat hartanya untuk mensucikan jiwanya. Jika mereka berhasil dalam hal ini, tentu mereka akan menjadi penghujat bagi orang-orang yang menyia-nyiakannya, menjadi hujjah bagi orang-orang yang menginginkan tegaknya, dan menjadi himbauan bagi orang-orang yang duduk-duduk saja. Ikhwan di Barambal, dengan koordinasi dari Propinsi Daqahliyah, telah lebih dahulu melakukannya dengan baik. Ikhwan di sana mengumpulkan dan membagikan zakat sebagai-mana termaktub dalam ayat,</p>
<p>“Sedekah (zakat) itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang fakir dan miskin.”</p>
<p>Dahulu, saya sempat merasa cemas melihat cerai-berainya persatuan dan simpang-siurnya kata-kata, karena pada tubuh kaum muslimin sekarang ini terdapat suatu perilaku yang dapat mengakibatkan renggangnya persatuan mereka, khususnya jika sudah berurusan dengan harta dan materi. Nah, dapat dibayangkan jika yang diurus adalah proyek yang garapan utamanya adalah materi itu sendiri. Dahulu saya begitu cemas dengan Ikhwan di Barambal akan kebakhilan orang-orang kaya dan fitnah yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang pekerjaannya senantiasa mencari-cari aib, meski pada sesuatu yang sempurna sekalipun. Mereka mencela dan mengatakan para sukarelawan sebagai orang riya’, mereka mencela dan mengatakan panitia pengumpul zakat sebagai orang yang memiliki kepentingan pribadi. Sedangkan para pengambil jatah zakat tampak begitu tamak, yang berpikir seandainya harta yang terkumpul itu semua adalah miliknya, yang orang lain tidak punya hak sama sekali. Tradisi yang telah turun-temurun membuat semua penghuni rumah yang masih berpikir ingin mengeluarkan zakat lebih memilih untuk membaginya bagi diri sendiri tanpa mengindahkan orang lain, meskipun mereka tahu bahwa orang lain pun membutuhkannya.</p>
<p>Dahulu saya begitu khawatir terhadap Ikhwan di Barambal akan munculnya kendala ini yang di masyarakat kita tampak demikian jelas. Sungguh sangat menyedihkan dan patut disesalkan. Namun Ikhwan dan masyarakat umumnya di Barambal ternyata dapat menunjukkan perilaku yang jauh dari kesan tersebut. Dengan kehadiran dan aktivitas mereka, hati semua orang menjadi tenang dan perasaan menjadi bahagia. Mereka dapat meyakinkan manusia bahwa kesucian niat dan kepercayaan, jika telah menghiasai jiwa mereka, niscaya akan dapat mengatasi berbagai kendala.</p>
<p>Orang-orang kaya Barambal tidak sekali-kali menolak menunaikan hak Allah ini saat mereka diseru untuk berzakat, sementara orang-orang miskinnya jauh dari tamak kepada hak-hak saudaranya yang lain. Apa yang telah mereka dapatkan dari harta zakat yang terkumpul itu telah membuat hati mereka bahagia sembari lisannya memanjatkan doa kebaikan untuk para muzakki dan pengelola zakatnya.</p>
<p>Ikhwan di Barambal telah melakukan aktivitas pengelolaan zakat yang menutup kemungkinan munculnya berbagai tuduhan negatif dan fitnah. Mereka membuat suatu kepanitiaan khusus yang bekerja mendata para mustahiq zakat dengan sumpah untuk tidak main-main dan tidak membocorkan rahasia serta aib mereka. Selain itu dibentuk pula kepanitiaan lain yang bekerja secara khusus melakukan check and recheck terhadap data yang masuk. Kemudian dibentuk kepanitiaan ketiga yang bekerja menemukan kadar zakat yang harus diterima oleh masing-masing mustahiq, dan panitia keempat adalah kepanitiaan yang tugasnya membagikan zakat. Sistem pengelolaan yang detail ini tak pelak lagi memunculkan rasa takjub sekaligus bahagia dari siapa pun yang menyaksikannya, bekerja sama dengannya, atau mengamati dampak positif yang ditimbulkannya, khususnya di masyarakat Barambal dan tetangganya. Setelah itu, masyarakat Barambal mampu mengikis kebiasaan yang tidak baik dalam Pengelolaan zakat; mereka mengikuti petunjuk yang benar dan merangsang kerja sama, serta menghadirkan suatu teladan yang baik, sebagai realisasi dari yang selama ini kami impikan.</p>
<p>Wahai pembaca, setelah adanya penjelasan ini, tidakkah Anda melihat bahwa Ikhwanul Muslimin adalah para aktivis?</p>
<p>Dan tidakkah Ikhwanul Muslimin melihat pada yang demikian itu suatu perwujudan dari apa yang selama ini menjadi angan-angan, dan -sebentar lagi kami akan mendengar berita- bahwa mereka akan bekerja lagi mengikuti langkah ini di tengah masyarakat lain yang aktif?</p>
<p>“Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (Al-Hajj: 78)</p>
<p>Jihad Adalah Kehormatan Kami</p>
<p>(Dimuat di mingguan Ikhwanul Muslimin, No. 24,9 Rajab 1353H.)</p>
<p>Telah lewat sepekan ini, sementara saya belum sempat menyampaikan isi hati kepada para pembaca yang budiman. Isi hati telah mengharu biru emosi dan mengetuk-ngetuk pintu hati karena ingin segera disampaikan; yakni tentang perjuangan Ikhwanul Muslimin, Saya tidak bermaksud menutupi kenyataan dari pandangan para pembaca yang budiman, yang tentu saja mengecewakan dan menusuk perasaan mereka. Lagi pula, saya ingin menunjukkan kepada orang tentang aktivitas dan perjuangan kami. Allah swt. telah mengetahui bahwa Ikhwanul Muslimin telah dan terus bekerja dengan hanya mengharap ridha Allah, tidak menunggu ucapan terima kasih dan balasan dari seorang pun. Mereka yakin bahwa ketika mereka bekerja, mereka tengah melakukan sebagian dari kewajiban yang dituntut Islam dari putra-putranya, meskipun masih banyak kekurangannya.</p>
<p>Kami ingin menyampaikan kepada orang tentang dakwah kami, menjelaskan kepada mereka batasan orientasi kami, dan menyingkap di hadapan mereka hakikat kami. Semua itu dengan harapan kiranya kami mendapatkan para pendukung kebajikan dan pembimbing umat -yang siap bekerjasama dengan kami lalu berlipat gandalah kemanfaatan, semakin dekatlah jarak menuju tujuan, dan terwujudlah apa-apa yang kita impikan bersama; menyangkut perbaikan secara menyeluruh dan penyelamatan segera. Sesungguhnya, jika hati demi hati berlalu tanpa diisi oleh umat dengan aktivitas yang berorientasi kebangkitan dari ’selimut’-nya, niscaya jarak tempuh pun akan kian jauh saja. Sungguh, pada dakwah Ikhwan -jika saja orang mengetahui ada penyelamatan; pada manhaj mereka –jika saja umat mencermatinya– ada keberhasilan; pada perjuangan mereka –jika saja orang memberi dukungan– ada penggapaian cita-cita. Tiada kemenangan kecuali dari sisi Allah swt., Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.</p>
<p>Kemudian, disebutkan dalam suatu riwayat yang shahih, yang kurang lebih isinya bahwa Mu’adz ra. berjalan bersama Rasulullah saw., lalu beliau berkata, “Kalau Anda mau wahai Mu’adz, saya akan menceritakan tentang kepala dan mahkota urusan ini. Kepala urusan ini adalah engkau bersyahadat bahwa tiada Tuhan kecuali Allah ’seorang’ diri, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Sedangkan pilar urusan ini adalah menegakkan shalat dan menunaikan zakat, sedangkan mahkotanya adalah jihad di jalan Allah. Saya diutus semata-mata untuk memerangi manusia sehingga mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan bersyahadat bahwa tiada Tuhan kecuali Allah ’seorang’ diri, tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Jika mereka melakukan ini, niscaya mereka terlindung serta dilindungi darah harta mereka, kecuali dengan haknya, dan -setelah itu -hitungannya dikembalikan kepada Allah. Demi Dzat yang Muhammad ada di tangan-Nya, tidak ada pekerjaan yang menjadikan pucatnya wajah dan berdebunya kaki dengan hanya mengharapkan surga setelah shalat wajib, kecuali jihad di jalan Allah. Dan tiada yang lebih berat timbangan seorang hamba kecuali penunggang kuda yang gugur di jalan Allah.”</p>
<p>Itulah definisi Nabi saw. tentang Islam, dan beliau adalah yang paling tahu tentangnya. Adapun Ikhwanul Muslimin, ia tidaklah menggiring umat manusia kepada selain Islam dan manhajnya, tidak pula menapaki sistem, kecuali sistem Islam.</p>
<p>Saya telah banyak berbicara tentang mereka menyangkut shalat dan zakat, serta apa-apa yang mereka inginkan dari diri mereka dan dari orang lain dengannya.</p>
<p>Kini saya berbicara kepadamu tentang Ikhwanul Muslimin yang berjihad dan apa-apa yang mereka inginkan -dari diri mereka dan orang lain- dari jihad di jalan Allah, yang ia adalah mahkota Islam.</p>
<p>Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku tercinta adalah munculnya emosi yang dinamis dan kuat, yang mengaliri gelora cinta untuk meraih kembali kehormatan dan kejayaan Islam; yang membisikkan gejolak rindu untuk menggapai kekuasaan dan kekuatannya; yang menangisi duka lara dan meratapi nasib kaum muslimin yang lemah dan hina; yang menyalakan api duka cita atas realitas yang tidak diridhai oleh Allah, Muhammad, dan tidak juga oleh jiwa dan nurani yang muslim dan “Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan umat Islam, maka ia bukan golongan mereka.” Begitulah sebuah hadits menuturkan.</p>
<p>Dengan demikian<br />
kemuraman hati berangsur meleleh<br />
bila padanya bersemayam Islam dan iman</p>
<p>Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku tercinta, adalah menjadikan duka cita atas kondisi yang mengitari itu sebagai pemicu dalam berpikir secara sungguh-sungguh bagaimana mendapatkan jalan keluar; dalam merenung panjang dan mendalam bagaimana memilih jalan-jalan amal dan mencari cara-cara penyelesaian. Barangkali -dengan begitu- Anda akan mendapati di tengah umat orang yang siap menunaikannya dan -secara tiba-tiba- mendapatkan penyelamatan. Niat seseorang lebih baik daripada amalnya, dan Allah swt. Mahatahu terhadap kedipan mata serta apa yang disembunyikan oleh hati.</p>
<p>Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku tercinta, adalah Anda menyisihkan dari sebagian waktu, sebagian harta, dan sebagian tuntutan pribadimu untuk kebaikan Islam dan putra-putra kaum muslimin. Jika Anda seorang pemimpin, maka berinfaqlah untuk memenuhi tuntutan kepemimpinanmu; Jika Anda seorang prajurit, maka bantulah para dai dengan aktivitasmu. Masing-masing dari mereka mendapatkan kebaikannya dan Allah memberi pahala untuk semuanya.</p>
<p>Allah swt. berfirman,</p>
<p>Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (Pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimbulkan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik, dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak pula yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (At-Taubah: 120-121)</p>
<p>Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku tercinta, adalah Anda memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, menaati Allah, mengikuti Rasul-Nya, mengamalkan Kitab-Nya, serta. memberi nasihat kepada para pemimpin Islam dan masyarakatnya, dengan hikmah dan mau’izhah hasanah, Suatu kaum jika telah meninggalkan sikap saling menasihati, mereka akan menjadi hina, dan jika meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, mereka menjadi terlantar.</p>
<p>“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud, dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amar buruklah apa yang mereka selalu perbuat itu.” (Al-Maidah: 78-79)</p>
<p>Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku tercinta Anda menjadi prajurit Allah; Anda ‘melindungi’-Nya dengan jiwa dan harta Anda. Untuk-Nya, jangan sisakan milik Anda sedikit pun. Jika kejayaan dan kehormatan Islam terancam dan gema seruan kebangkitan diserukan, Anda harus menjadi orang yang pertama kali menyambut seruan itu dan menjadi orang pertama yang maju ke medan jihad.</p>
<p>“Sesungguhnya Allah membeli dari kaum mukminin, jiwa dan harta mereka, dengan surga untuk mereka.” (At-Taubah: 111)</p>
<p>Sebuah hadits menyatakan,</p>
<p>“Barangsiapa mati dalam keadaan belum pernah perang dan belum pernah terbetik dalam dirinya untuk itu, maka ia mati di atas bagian dari kemunafikan.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Nasa’i)</p>
<p>Dengan demikian itulah penyebaran Islam, hingga ia merambah seluruh permukaan bumi.</p>
<p>Sebagian dari jihad dalam Islam wahai saudaraku tercinta, Anda bekerja demi menegakkan timbangan keadilan, melakukan perbaikan urusan seluruh makhluk, meluruskan tindak kezhaliman, dan mencegah tangan pelakunya seberapa pun kekuatan dan kekuasaannya. Dalam hadits riwayat Abu Sa’id Al-Khudri ra., Nabi saw. bersabda, “Seutama-utama jihad adalah kata-kata benar di hadapan penguasa yang zhalim.” (HR. Abu Daud dan Bukhari)</p>
<p>Dari Jabir ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seseorang yang berkata lantang di hadapan penguasa yang zhalim memerintah dari mencegahnya, akhirnya dibunuhlah ia.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Sebagian dari jihad fi sabilillah wahai saudaraku tercinta, -jika Anda tidak dapat melakukan semua itu-hendaklah Anda memberikan cinta Anda kepada para mujahid dari relung hati yang paling dalam dan memberi masukan nasihat kepada mereka dengan buah pikiran Anda yang jernih. Dengan begitu, Allah swt. telah mencatat untuk Anda pahala dan telah melepaskan Anda dari tanggung jawab. janganlah sekali-kali Anda menjadi orang selainnya, sehingga hati Anda akan dikunci dan dituntut dengan sepedih-pedih siksa.</p>
<p>“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit, dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk mengalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang. Dan tiada (pula dosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama-sama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (At-Taubah: 91-93)</p>
<p>Demikian inilah sebagian dari tingkatan-tingkatan jihad dalam Islam. Lalu di manakah posisi Ikhwanul Muslimin di antara tingkatan-tingkatan ini?</p>
<p>Ada pun jika mereka tengah larut dalam duka lara menyaksikan derita yang menimpa kaum muslimin sekarang ini, maka Allah mengetahui bahwa salah satu dari mereka –karena larutnya dalam perasaan duka cita– ada yang sampai tidak bisa lagi memberikan kelembutan perasaan dan kasih sayangnya kepada keluarga maupun saudara-saudaranya, tidak dapat lagi menikmati keindahan dan kenikmatan yang ada di alam nyata ini.</p>
<p>Adapun jika mereka tengah berada di jalan pembebasan, maka Allah mengetahui bahwa tiada sebuah fikrah pun yang dapat diterima oleh mereka; tiada suatu langkah pun yang dapat memuaskan jiwa mereka; tiada suatu urusan pun yang menyibukkan pikiran mereka sebagaimana urusan yang tengah memenuhi kepala dan dadanya ini; dengan sepenuh perasaan dan perenungannya.</p>
<p>Adapun jika mereka adalah orang-orang yang tengah berjuang di jalan ini dengan waktu dan harta bendanya, maka cukuplah Anda mengunjungi tempat perkumpulan mereka, niscaya Anda akan mendapati mata-mata sayu karena banyak begadang, wajah-wajah pucat karena kelelahan, badan-badan layu karena dilelahkan oleh semangat iman dan aqidahnya, serta pemuda-pemuda yang menghabiskan waktunya hingga lebih dari tengah malam dengan serius duduk di balik meja-meja kantor mereka, sementara anak-anak muda sebayanya tengah asyik dengan canda ria, obrolan dan kenikmatan duniawinya. Memang, betapa banyak mata yang begadang demi mata yang lelap tertidur. Namun demikian, kita serahkan pahalanya kepada Allah dan kita tidak merasa memberi kenikmatan dengannya.</p>
<p>“Sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 17)</p>
<p>Jika Anda bertanya tentang harta yang diinfakkan untuk dakwah mereka, tidaklah ia kecuali harta yang sedikit saja jumlahnya yang mereka berikan dengan sepenuh keridhaan dan lapang dada. Sungguh, mereka memuji Allah karena mereka dapat meningkatkan pengorbanan, berlapang dada melepaskan harta dari jenis kebutuhan sekunder menuju sikap ekonomis dalam menggunakan harta dari jenis kebutuhan primer, untuk selanjutnya menginfakkan yang sekundernya di jalan Allah.</p>
<p>“Dan siapa yang dipelihara dari Kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (AI-Hasyr: 9)</p>
<p>Alangkah bahagianya kita jika Allah swt. menerima itu semua dari kita, karena ia memang dari-Nya dan untuk-Nya.</p>
<p>Ada pun jika mereka adalah orang-orang yang beramar ma’ruf dan nahi munkar, maka mereka memang telah memulai dari diri mereka sendiri lalu keluarganya, rumah tangganya, saudara-saudaranya, dan kemudian handai taulannya. Bersama dengan itu mereka bekali diri dengan kesabaran dan kearifan. Tidakkah Anda menyaksikan penerbitan mereka bahwa ia adalah salah satu dari langkah amar ma’ruf nahi munkar. Tidakkah Anda menyaksikan pidato-pidato dan kata-kata mereka bahwa ia adalah salah satu jalan pembebasan ini?</p>
<p>Adapun tingkatan jihad selain ini, maka jamaahlah yang harus menunaikannya. Ikhwanul Muslimin generasi pertama pun tidak menyia-nyiakan potensinya untuk terlibat, karena mereka demikian memahami posisinya di hadapan agama ini dan mengetahui pula bahwa Nabi saw. bersabda,</p>
<p>“Barangsiapa menemui Allah tanpa tanda bahwa dirinya telah berjihad, ia menemui Allah dalam keadaan cacat (sumbing).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)</p>
<p>Mereka memohon kepada Allah agar memperkenankan mereka bertemu dengan-Nya dalam keadaan tidak cacat. Allah swt. telah berfirman,</p>
<p>“Tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. kobarkanlah semangat para mukminin (untuk berperang).” (An-Nisa: 84)</p>
<p>Dengan demikian, kami berharap bahwa kami telah menyampaikan berita tentang jamaah dan semoga suara ini telah benar-benar sampai ke telinga mereka, kemudian terdapatlah di sana ‘lahan subur’ untuk melahirkan tambahan tenaga pekerja dan siap bergabung dengan barisan para mujahid</p>
<p>“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)</p>
<p>Hak Al-Qur’an</p>
<p>(Dimuat oleh mingguan Ikhwanul Muslimin, No 26, 23 Rajab 1353 H.)</p>
<p>Saya tidak melihat Sesuatu yang seharusnya selalu dijaga namun hilang, atau sesuatu yang seharusnya menjadi pokok persoalan tetapi diabaikan, sebagaimana Al-Qur’an Al-Karim. pada hal Allah swt. menurunkannya sebagai kitab dengan kandungan aturan yang tegas, sebagai undang-undang yang integral, dan sebagai pilar bagi urusan agama dan dunia ini.</p>
<p>“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushilat: 42)</p>
<p>Saya berkeyakinan bahwa tujuan paling penting dari diturunkannya Al-Qur’an yang wajib ditunaikan oleh umat Islam ada tiga:</p>
<p>Pertama, memperbanyak tilawah dengan niat taqarrub kepada Allah.<br />
Kedua, menjadikannya sebagai sumber hukum agama yang senantiasa dikaji dan digali, serta dijadikan rujukan.<br />
Ketiga, menjadikannya sumber undang-undang dunia, yang harus dipetik nilai-nilainya dan diterapkan dalam realitas kehidupan.</p>
<p>Itulah beberapa tujuan yang terpenting dari diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Nabi, Ia tinggalkan Al-Qur’an untuk kita sebagai pemberi nasihat, pemberi peringatan, sebagai hukum, keadilan, dan sebagai timbangan yang adil. Para salafush shalih memahami benar tujuan ini. Mereka pun menerapkannya dengan sebaik-baik penerapan; ada di antara mereka yang selesai membacanya dalam tiga hati; ada pula yang menyelesaikannya dalam tujuh hati; ada lagi yang mengkhatamkannya kurang dari itu atau lebih darinya. Sebagian dari mereka lalai dari membaca Al-Qur’an, ia memandang mushaf lalu membacanya beberapa ayat sembari bergumam, ‘Agar saya tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur’an.”</p>
<p>Dengan begitu, Al-Qur’an menjadi cahaya hati mereka, tradisi ibadah yang senantiasa dibacanya siang dan malam. Semoga Allah swt. meridhai khalifah ketiga (Utsman bin Affan ra.) yang tidak melupakan mushaf, sementara para pembunuh berada di pintunya dan pedang telah menempel di lehernya.</p>
<p>Ia rengkuh Kitabullah di awal malam<br />
dan berjumpa dengan maut di penghujungnya<br />
Semoga Allah merahmati orang yang dalam ratapannya tidak<br />
menemukan kata-kata yang paling baik kecuali:<br />
Mereka berkorban dengan sujudnya yang panjang<br />
dengan itu dilalui malam bersama tasbih dan Qur’an.</p>
<p>Jika Anda menelaah kembali perjalanan hidup mereka, niscaya Anda tidak mendapati seorang pun dari mereka meninggalkan Kitabullah atau tidak membaca Al-Qur’an selama sepekan, apalagi sebulan, atau lebih lama dari itu. Saya tidak ingin berpanjang kata dalam menceritakan apa yang saya pelajari dan mengambil hikmah dari buku sejarah dan Sirah mereka.</p>
<p>Mereka jika ingin mengambil kesimpulan hukum agama Allah, maka Al-Qur’anlah yang pertama kali menjadi rujukan. Lagi pula, apalagi yang pertama jika bukan Kitab Allah? Anda juga menyaksikan Rasulullah saw. tatkala membenarkan Mu’adz bin Jabal saat bertanya kepadanya, “Dengan apa Anda menghukum?” Ia menjawab, “Dengan Kitabullah.” Ia memulai dengannya lalu dengan Sunah yang suci Dan Anda telah mengetahui bahwa Umar ra. melarang banyak sahabat untuk berbicara kepada orang yang baru masuk Islam dengan hadits-hadits dan berbagai kejadian yang ada sebelum dipahamkan dahulu dengan Kitabullah pertama kali; mereka dikenalkan dengan hukum halal dan haram. Engkau juga menyaksikan para tokoh tabi’in dan pengikut tabi’in yang baik-baik, semisal Sa’id bin Musayyib, mereka tidak memberi izin kepada orang untuk menghimpun fatwa-fatwanya dikarenakan khawatir orang akan berpaling dari Kitabullah kepada kata-kata mereka. Sa’id bin Musayyib pernah merobek-robek lembaran kertas dari orang yang mencatat fatwa-fatwanya sembari berkata, “Engkau mengambil kata-kataku sementara meninggalkan Kitabullah. Engkau pergi lalu berkata ‘Kata Sa’id, kata Sa’id?’ Berpegang teguhlah kepada Kitabullah kemudian Sunah Rasul-Nya.”</p>
<p>Tidakkah Anda melihat dari kenyataan ini bahwa salafush shalih. ra. menjadikan Kitabullah sumber dari segala sumber yang dari sana mereka mengambil kesimpulan hukum bagi agama Allah.</p>
<p>Tidaklah ada sistem hidup di dunia -bagi mereka- kecuali harus selaras dengan apa-apa yang diperintahkan Allah dan tunduk patuh kepada apa yang diturunkan oleh-Nya; hak-hak yang harus ditunaikan, hukum-hukum yang harus diterapkan, dan perintah-perintah yang harus dikerjakan, tanpa pengabaian, penghilangan, maupun komentar. Demikianlah masa lalu, masa di mana Islam adalah bangunan sistem yang segar bugar dan buah agama yang telah ranum. Masa di mana umat Islam memahami dengan baik hukum-hukum agamanya dan fasih membaca Al-Qur’an sebagaimana diajarkan oleh Allah dan Nabi-Nya.</p>
<p>“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran,” (Shad: 29)</p>
<p>Lalu berubahlah negeri-negeri itu, berterbanganlah kekuatan jiwa Qur’an dari akal pikiran dan benak manusia, dan merasuklah sebagai gantinya polusi kebatilan; dan tiba-tiba saja mereka sudah berada di suatu lembah sedangkan Al-Qur’an ada di lembah lain sementara jarak antara dua lembah itu sejauh timur dan barat.</p>
<p>Ia berlalu menuju timur sedangkan Anda menuju barat<br />
betapa jauhnya jarak antara timur dan barat</p>
<p>Adapun ibadah dengan tilawah Qur’an di waktu malam dan siang, sedikit sekali di antara kita yang memperhatikan dan mengamalkannya. Sedangkan para pelaku ibadah yang lain, yang beribadah dengan cara yang mereka buat sendiri atau ditetapkan oleh para mursyidnya; semisal amalan wirid, hizib, dan salawat, kesibukan amal yang dengannya mereka meninggalkan Kitabullah kecuali sekedar tilawah, menghafal, dan mengulang-ulangnya, kami tidak menganggap haram bacaan wirid yang benar dan tidak pula melarang orang mengamalkan doa-doa dan hizib, sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan syariah. Namun demikian, kami ingin menegaskan bahwa Kitabullah itu lebih utama. Pertama, seleksilah dari hizib-hizib itu yang kiranya dapat menghubungkan hatimu dengan-Nya atau mengikatkan ruhanimu dengan cahaya-Nya, lalu berdzikir Setelah itu dengan cara-cara yang sesuai dengan aturan agama. Adapun jika Anda pinggirkan Al-Qur’an dengan menjadikan ibadahmu hanya melaksanakan cara-cara yang Anda tetapkan sendiri atau ditetapkan oleh orang lain, maka itu berarti Anda telah meninggalkan Al-Qur’an dan mengabaikan hak-haknya.</p>
<p>Adapun tentang ‘menyimpulkan hukum’ dari Al-Qur’an, banyak orang yang jatuh dalam kebodohan. mereka meletakkan hijab antara dirinya dengan Qur’an dengan hijab yang tebal, yang menjadikan mereka lebih puas dan lebih asyik dengan kesimpulan-kesimpulan atau komentar-komentar saja. Hasrat mereka untuk menyelam lebih dalam bersama sesuatu yang lebih berharga amatlah kecil.</p>
<p>Apalagi mengenai penerapan hukum-hukum yang bersifat duniawi, orang telah menggantikannya dengan selain Qur’an. Mereka meletakkan -sebagai gantinya- prinsip-prinsip asing yang dibangun oleh Prancis dan Romawi untuk dijadikan sumber undang-undang dan dasar hukumnya. Dengan demikian, terabaikanlah hukum-hukum Kitabullah di kalangan kaum muslimin, padahal di sanalah Allah swt. memberi pelajaran kepada mereka tentang segenap kebaikan, jika saja mereka mendengarkan. Setelah itu cukuplah bagi kaum muslimin, Al-Qur’an hanya menjadi mantera-mantera untuk penyembuhan, hiasan di perkumpulan-perkumpulan, serta pengiring bagi resepsi pesta maupun upacara kematian. Taruhlah mereka menjadikan Al-Qur’an seperti itu, namun kalau saja dibarengi dengan penunaian hak-haknya, tidaklah mengapa. Akan tetapi, Anda menyaksikan-bersama dengan itu- bahwa mereka acuh tak acuh dan mengalihkan perhatiannya kepada canda ria dan asyik berbincang sesamanya. Padahal Allah swt. berfirman,</p>
<p>“Jika dibacakan Al-Qur’an maka dengarkan dan perhatikanlah, mudah-mudahan kalian mendapatkan rahmat.” (Al-A’raf: 204)</p>
<p>Dahulu Al-Qur’an adalah hiasan shalat, kini hanya menjadi hiasan resepsi; dahulu ia adalah timbangan keadilan dalam mahkamah, kini hanya menjadi pengiring senda gurau dan hari-hari besar; dahulu ia adalah media pelengkap pidato dan nasihat, kini hanya menjadi jimat dan mantera-mantera. jadi, berlebihankah jika saya katakan bahwa “tidak kulihat sesuatu yang harusnya dijaga namun justru hilang sebagaimana Kitabullah?”</p>
<p>Sungguh, suatu kontradiksi yang aneh terjadi pada kita dalam menyikapi Al-Qur’an. Kita mengagungkannya tanpa ragu, kita membelanya tanpa ragu, dan kita taqarrub kepada Allah dengannya juga tanpa ragu. Namun wahai manusia, kalian salah langkah dalam mengagungkannya, kalian justru menjauh dari jalan pembelaan terhadapnya, dan kalian sesat dalam melakukan taqarrub kepada Allah dengannya.</p>
<p>Bukankah berarti menyia-nyiakan Kitabullah manakala Anda melihat tempat-tempat yang dari sana Al-Qur’an menelurkan sejumlah besar pejuang pilihan, kini menjadi tempat menyepi bagi orang-orang yang menghafalkannya dan dengan alasan itu mereka udzur dari medan perjuangan?</p>
<p>Bukankah berarti menyia-nyiakan Al-Qur’an manakala Anda menyaksikan mahasiswa masuk di Universitas Al-Azhar, kemudian menghafal Al-Qur’an hanya karena ia merupakan syarat untuk diterimanya di sana? Ketika ia keluar dari sana, serta merta ia melupakannya, karena Al-Qur’an tidak lagi menjadi syarat penerimaan ijazah kelulusannya. Anda menyaksikan, jika ia menjadi imam bagi orang banyak, ia banyak membuat kesalahan; jika berceramah, ia bersandar kepada para fuqaha’ di kampung; Jika menjadi pembela atau hakim, ia kembali kepada mushaf untuk “mengoreksi” beberapa ayat yang akan dijadikan rujukan.</p>
<p>Sungguh, kita telah benar-benar menyia-nyiakan Al-Qur’an. Seolah-olah di tangan kita ada kitab warisan yang tidak bisa memberi pengaruh apa pun dan tidak pula ditegakkan kandungannya. Inilah hakikatnya, pangkal dari segala musibah yang menimpa kita.</p>
<p>Jika Anda mengetahui ini wahai pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa Ikhwanul Muslimin berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengembalikan mereka kepada Kitabullah; mereka beribadah dengan tilawahnya, mengambil cahayanya –dalam memahami kata-kata para pemimpin umat- dengan ayat-ayatnya, meminta kepada semua orang untuk menerapkan hukum-hukumnya, dan menyeru mereka bersama-sama untuk mewujudkan tujuan ini, yang itu adalah semulia-mulia tujuan seorang muslim dalam hidupnya.</p>
<p>Bagi Allahlah segala urusan, baik dahulu maupun sekarang.</p>
<p>Manhaj Ikhwan Dan Timbangannya</p>
<p>(Dimuat oleh mingguan Ikhwanul Muslimin, No. 27,30 Rajab 1353 H.)</p>
<p>Jika Anda mengkaji kembali sejarah kebangkitan berbagai bangsa, baik di Barat maupun di Timur, dahulu maupun sekarang, Anda akan menjumpai kenyamanan bahwa para pelaku kebangkitan dapat menuai sukses karena memiliki manhaj tertentu; yang menjadi pijakan operasional dan tujuan perjuangannya Manhaj ini diletakkan oleh para agen kebangkitan tersebut, lalu diperjuangkan perwujudannya. Mereka bekerja sepanjang kekuatannya masih ada dan selama hayat masih dikandung badan. Jika cita-cita itu belum dapat diraih sementara masa hidupnya di dunia yang pendek ini telah berakhir, tampillah generasi penerusnya untuk meneruskan bekerja sesuai dengan manhaj yang telah diletakkan. Mereka memulai dari titik di mana generasi pendahulu berhenti; mereka tidak memutus pencapaian yang telah diraih, tidak menghancurkan komponen-komponen yang telah dibangun, tidak mendongkel pondasi yang telah diletakkan, dan tidak pula memporak-perandakan apa-apa yang telah dirakit. Kalau mereka tidak menambahkan pada tinggalan para pendahulu dengan yang lebih baik, paling tidak mereka bertahan dengan produk yang telah ada dengan menjaganya sekuat tenaga. Kalau mereka tidak mengikuti jejak pendahulu dengan menambah tingkat bangunan lalu melangkah bersama masyarakat menuju ke tujuan yang diinginkan, paling tidak mereka sadar dan mengundurkan diri untuk kemudian menyerahkan tongkat estafet perjuangan kepada yang lain. Begitulah seterusnya, sampai cita- cita dan impian dapat terwujud. Dengan begitu, sempurnalah kebangkitan, berbuahlah perjuangan panjang, dan sampailah masyarakat ke tujuan yang telah dicanangkan.</p>
<p>Kaji ulanglah berbagai institusi di tengah masyarakat, Anda akan melihat apa yang saya katakan ini dengan sejelas-jelasnya bahwa kunci keberhasilan dalam setiap kebangkitan adalah tersedianya manhaj dan orang-orang yang siap bekerja mengikuti petunjuknya (manhaj itu), tanpa bosan dan tanpa surut. ini sangat jelas terlihat pada khithah yang dilalui oleh dakwah Islam periode awal. Allah telah meletakkan untuknya manhaj yang di atasnya berlalulah dakwah bersama kaum muslimin masa lalu dengan sirriyahnya, kemudian jahriyah, kemudian pengorbanan di jalannya, kemudian hijrah menuju tempat di mana hati-hati yang menerima berada dan jiwa-jiwa yang siap bercokol, kemudian ukhuwah antara jiwa-jiwa ini, kemudian pengokohan ikatan iman di dada, kemudian perjuangan total dan pengasingan diri dari kebatilan menuju kebenaran.</p>
<p>Inilah Abu Bakar ra. Ia menginginkan segera hijrah dari Makkah menuju Madinah, namun Rasulullah saw. menyuruhnya untuk menunggu sampai datang izin dari Allah swt. untuk itu. Tatkala khithah yang pertama dari manhaj dakwah ini telah sempurna, yakni tatkala Rasulullah saw. telah berhasil menerapkan syariatnya, Allah swt. menurunkan firman-Nya.</p>
<p>“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)</p>
<p>Kemudian datanglah -setelah Rasulullah saw. -para sahabat dan tabi’in yang memindahkan percontohan ideal dan sempurna ini dari jazirah Arab ke berbagai wilayah di dunia, agar kalimah Allah itulah yang tertinggi dan “agar tidak ada lagi fitrah dan (sehingga) agama itu hanya milik Allah.” (Al-Baqarah: 193)</p>
<p>Jika Anda layangkan ingatanmu pada sejarah firqah-firqah Islam dan peristiwa-peristiwa sebelumnya, lalu tegaknya daulah Abbasiyah di Timur dan kebangkitan negeri-negeri modern benua Eropa, seperti: Perancis, Italia, juga Rusia, dan Turki, baik pada periode awalnya (yakni periode penyatuan dan penanaman pondasi negara) maupun pada periode ini (yakni periode pembentukan prinsip-prinsip dasar dan penyebaran pandangannya), niscaya Anda akan melihat bahwa semua itu tunduk di bawah sebuah manhaj yang jelas khithahnya, yang dapat mengantarkan kepada suatu tujuan yang bisa diperhitungkan dan dijadikan orientasi bagi perjalanan umat.</p>
<p>Wahai saudaraku, saya yakin bahwa semua revolusi sepanjang sejarah dan semua sejarah kebangkitan pada suatu masyarakat selalu berjalan sesuai dengan undang-undang ini, meski kebangkitan’ agama yang dipelopori para nabi dan rasul. Hanya saja, kebangkitan yang terakhir ini manhajnya digariskan oleh Allah swt., Rasul, dan orang-orang setelahnya memberi bimbingan kepada kaumnya untuk menapaki khithah manhaj ini, langkah demi langkah, pada waktunya yang tepat, lalu didukunglah mereka untuk meraih kemenangan dari sisi-Nya. Dengan itu, kebangkitan pasti terjadi.</p>
<p>“Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang. ‘Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Al-Mujadilah: 21)</p>
<p>Bagaimana mungkin kekeliruan akan datang jika peletak manhaj adalah Dzat Yang Mahatahu, sedangkan pelaksananya adalah orang yang terpelihara dari kekeliruan dan terjaga dari kesalahan, serta dibekali dengan taufiq, dan kemenangannya dijamin oleh Allah? Dari itulah maka kenabian ini merupakan rahmat bagi semesta alam.</p>
<p>Tentang kata-kata ini, Para pembaca akan terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok orang yang mengkaji sejarah umat dan tahapan-tahapan kebangkitannya ‘ ia pasti meyakini sepenuhnya. Kedua, kelompok orang yang tidak memiliki kesempatan untuk ini. Jika mau, pelajarilah agar mereka tahu bahwa saya tidak berkata kecuali benar adanya. Tidaklah saya menginginkan kecuali perbaikan, sebisa yang saya lakukan</p>
<p>Semua pembahasan di atas menceritakan kebangkitan yang wajar (sesuai dengan sunnatullah). Sedangkan kebangkitan kita, apakah ia juga akan terjadi sesuai dengan sunnatullah dalam alam dan kehidupan sosial ini? Itulah yang saya ragu. Saya mencatat bahwa kita memiliki watak tergesa-gesa dan mudah terpengaruh serta emosional. juga watak-watak negatif lain, baik sosial maupun non sosial, yang menjadikan kebangkitan kita akan terjadi secara tiba-tiba dan langsung menguat seiring dengan kuatnya pengaruh waktu, lalu menurun dan akhirnya lenyap seperti tak terjadi apa-apa. Jika saja tujuan perjuangan kita dipahami orang banyak, saya masih yakin akan adanya dua faktor yang menyertai pemahaman tersebut. Pertama, sarana-sarananya tidak dikenal dan tidak tertentu, bahkan mungkin dipahami secara kontradiktif oleh masing-masing mereka dan kita tidak merasakannya. Kedua, terputusnya hubungan secara total antara generasi pendahulu dan generasi penerus, Mungkin generasi pendahulu baru sampai di pertengahan jalan, namun generasi berikutnya tidak meneruskannya karena terputus tadi. Mereka bahkan memulai kembali dari awal yang terkadang bisa juga mencapai hasil sebagaimana yang dicapai oleh para pendahulunya, namun terkadang juga kurang darinya atau bisa juga lebih banyak. Yang penting, umat tidak pernah sampai kepada tujuan akhir, karena pekerjaan individual itu sangat terbatas bila dibanding dengan usia kebangkitan dan umur umat. Kalau ada pikiran bahwa satu orang dapat mewujudkan seluruh keinginan umat, itu adalah khayalan dan tipuan emosi belaka. Setiap pekerja harus menurunkan kadar emosinya agar ia bisa mengambil manfaat dari apa yang dikerjakan pendahulunya.</p>
<p>Ini sekadar pemaparan realitas yang memang terjadi, Setelah itu, saya ingin mengatakan bahwa Ikhwanul Muslimin memiliki manhaj yang jelas, yang mereka berjalan di atasnya, yang menimbang diri mereka dengannya, dan mengetahui pula –sekali-kali di mana posisi mereka di hadapan manhaj ini. Lalu tiba-tiba Anda bertanya kepada mereka tentang dasar manhaj ini secara teoritis “apakah itu?”</p>
<p>Saya akan menjawabnya dengan jawaban terus-terang dan tuntas bahwa ia adalah kaidah-kaidah dan dasar yang didatangkan oleh Al-Qur’an Al-Karim. Jika Anda bertanya tentang sarana dan khithah kerjanya, saya menjawab dengan terus-terang juga bahwa ia adalah sarana dan khithah warisan Rasulullah saw. Dan tidaklah baik akhir urusan umat ini, kecuali dengan kebaikan yang ada pada generasi awalnya.</p>
<p>Dengan uraian-uraian ini, usailah serial global mengenai Ikhwanul Muslimin yang dinamis. Saya berharap bahwa ia berpengaruh bagi para pembaca yang budiman, kemudian memberi dukungan kepada mereka yang siap mempersembahkan segalanya. di jalan Allah dan dakwah, serta bergabung dengan mereka untuk memberikan sahamnya lebih banyak dalam menghadapi kebangkitan yang wajar ini, yang pekerjanya setiap hari menuai kemenangan batu. Jika tidak mengantarkannya kepada kemerdekaan, paling tidak mengantarkannya kepada generasi berikutnya, berkat kegigihan perjuangannya, insya Allah.</p>
<p>‘Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan menilai pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (At-Taubah: 105)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jayakanislam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jayakanislam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jayakanislam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jayakanislam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jayakanislam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jayakanislam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jayakanislam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jayakanislam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jayakanislam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jayakanislam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jayakanislam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jayakanislam.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jayakanislam.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jayakanislam.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jayakanislam.wordpress.com&amp;blog=7279896&amp;post=34&amp;subd=jayakanislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jayakanislam.wordpress.com/2009/07/08/apakah-kita-aktivis-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c03da35a35bea06499c2202d807cb20d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abufurqon</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
